Archive for October, 2010

Dipercaya, eh malah kabur

12.00 WIB, seperti biasa, kami makan siang di ruang kami sendiri, Accounting. Tapi cuman beberapa orang aja sih yang makan di ruangan. Ada yang langsung dimakan di tempat penyediaan catering, dulu pun juga gitu aku. Tapi karena kursi makan di mushalla mepet, seringnya nggak kebagian. Walhasil gantian duduknya. Celakanya klo pas perut nggak bisa nahan, kan ‘mbencekno’ pke acara nunggu2 segala… mo diakalin sholat dulu yah nggak konsen belum lagi kan dah biasanya after sholat lanjut klesetan. Nah pas sekitar maret 2010 kemaren kena types, aku sering bawa maem dari rumah. Yah dari pada jalan 250 meter maem di mushalla depan, mending di makan di ruangan. Waktu itu santoso doang yang makan di ruangan. Akhirnya, keterusan deh makan di ruang, palagi setelah Dwi-ex GGWI-ku masuk Jindal as cashier. Jadi deh kita giliran ngambil kotak ketering ke ruangan akunting.

 Oke, kembali ke laptop!

Makan siang kemaren salah satu temenku cerita mengenai musibahnya, uang sebesar 25 juta yang ia dan suaminya percayakan ke temen sekantor suaminya untuk invest usaha, ternyata orang tersebut ( kita sebut aja si ’x’) lari bersama keluarganya. Dan ini pun bukan dia aja, beberapa temen suaminya pun berinvest, jika ditotal hampir stengah M. HAH? Besar juga yah? Hebat koq bisa membuat orang percaya invest ke x…..

Dia nggak mengira bakal seperti ini. Awalnya pun lancar2 aja, uang setoran hasil invest per bulan pun lancar diterima. Namun sejak 2 bulan sebelumnya mulai macet dan terdengar ada masalah bahwa x kena claim dari perusahaan yang disuplainya. Syukurlah waktu itu temenku dah ancang-ancang buat surat perjanjian yang menyatakan jika tidak dapat mengembalikan uangnya maka aset truk milik x akan disita.

 Akhir cerita, truk sudah ditangan… tappi, masalahnya truk masih kredit alias dileasingkan. temenku bingung gimana nih truk mau diapain? Dia membolak balik segala alternatif jalan keluar tapi masih ragu apa ini solusi terbaik. Dia berencana mo gadaikan or njual itu truk dan mungkin mau sekalian menghilangkan jejak si truk dengan data2nya di hapus atau digelapkan.

 Aku katakan emang susah  klo kita kesandung urusan ma leasing. Mereka itu organisasi yang kuat, punya jaringan debt collector yang punya algojo2 alias jago tagih yang kejem-kejem. Mereka nggak bakal nyari x yang udah gak jelas, pastinya pengen hunting dimana truk itu. Dia punya hak langsung ’nyikat’ aset yang dileasingkan dimanapun ketemu. Dan itu diperbolehkan secara hukum, karena perjanjian leasing pastinya mencantumkan resiko2 semacam ini. Aku mengkhawatirkan pihak leasing bakal mencium bahwa truk ada di tangan temenku, malah runyam berhadapan dengan mereka. Mungkin solusi yang lebih aman adalah melanjutkan kredit truk itu sambil dimanfaatkan penggunaannya. Tapi, aku pesen2 untuk menanyakan dulu ke ahli hukum mengenai kekuatan perjanjian yang berhasil ditandatangani x itu ( bermaterai juga sih), apakah emang dah cukup kuat untuk menjadi dasar bahwa truk secara hukum telah berpindah tangan karena ketidakmampuan untuk membayar. Setelah itu yakin, mending jika dia mampu, dialanjutkan saja angsuran kreditnya. Lebih safe daripada harus berhadapan dengan urusan leasing.

Agak rumit memang… tapi itulah hidup. Banyak ujian-ujian berupa musibah ataupun rejeki itu sendiri. Nggak ada yang mengira bakal mengecewakan. Kita memulai sesuatu pastinya dengan semangat, berharap dengan doa semuanya akan lancar dan menghasilkan lebih dan lebih. Yah, intinya kan kita hanya ikhtiar. Jika hasil akhir tidak sesuai rencana, saatnya kita diuji untuk bersabar. Memang, mudah terdengarnya jika kita tidak mengalaminya langsung.Mungkin memang kita belum terbiasa dengan cobaan-cobaan hidup, karena di umuran kita yang 30-an awal ini, kita belum lama menapaki hidup yang sesungguhanya alias berumah tangga, masih beberapa tahun ! belum banyak ujian yang kita lalui, asam garam belum banyak kita cicipi. Jadi sekalinya kita mendapatkan cobaan biasanya pasti shock dan sedihnya tidak terukur.

 Pengalamanku mungkin tidak banyak akan musibah macam beginian, semoga Allah senantiasa memberikan yang terbaik…. hal serupa setidaknya sudah 2 kali aku alami. Meski nilai uangnya tidak sebanyak itu. Tapi relatif sih, dulu di tahun 2000-an saat baru pertama2nya kerja, aku kumpulkan gajiku dan beberapa bulan berikut aku belikan pedet (sapi kecil). Aku sadar, gaji kerja ikut orang berapa nilainya, kalo nggak dikembangkan lagi, yah keadaan bakal begini terus. Apalagi waktu itu aku merencanakan melanjutkan kuliah / tranfer S-1 akuntansi di tahun itu. Harapan aku, semoga hasil sapinya bisa buat bayar kuliah per semesternya. Tapi siapa sangka kalau akhirnya sapi yang baru beberapa minggu kita beli akhirnya sakit. Lalu aku kembalikan ke ’juragan’ sapi tempat aku beli dengan janji akan diganti yang baru. Apa boleh buat, juragan tersebut nggak lama kemudian kena musibah dirampok saat perjalanan dari madura setelah kulakan sapi. Semuanya habis, juragan tersebut jatuh bangkrut. Dia tidak punya usaha lagi…. selama 3 tahunan aku masih aktif nelponin si juragan supaya membayar kembali uang sapiku. Tapi yah gtu… selalu ada alasan menghindar jika ditelpon. Aku berusaha mencari tahu keadaan ekonominya saat ini dan memang dia udah jatuh.trus, mau diapakan? Sempet nanya2 teman yang lulusan hukum soal ini, katanya soal uang itu urusan perdata, bukan pidana, jadi tidak bisa dipenjarakan. Hah, ya sudahlah…. sudah lama juga cerita itu, aku hampir melupakannnya sekarang…

Yang kedua, usaha patungan bertiga ama temen hancur. Gak dapet apa-apa. Padahal waktu itu aku habis di phk, berharap biar ada penghasilan bulanan sebelum dapet kerja lagi, e’e… hancur ditengah jalan. Pelajaran penting bagiku bahwa tidak mudah menakodai kapal dengan banyak orang ’pintar’ apalagi nggak mau ngalah and ongin menang. Kapok juga, aku mungkin usaha sendiri tanpa join teman jika nanti punya modal. Susah menyatukan misi, banyak kepentingan….

So, semua itu harus diihlaskan. Aku telah melaluinya, dan begitu banyak yang sudah Allah gantika
n untukku dengan rejeki yang lainnya. Benar, ini sudah jalan-Nya, bahwa kita harus melalui ini untuk bisa sampai di ’jalan’ lainnya yang sudah direncanakan-Nya. Ya Robbi, tunjukkan selalu jalan yang benar, tuntunlah langkah kami dalam menapaki surat-suratanmu. Amien….

Leave a comment »

a MAN always :


1. BIG EGO-

Men talk about women equality but when its the time to show that the big ego comes in front . for ex….They can never ask the routes from the women as it hurts there male ego. aah……

2.DOUBLE STANDARDS-

Men always like to hang around with cool babes but when it comes of marriage they need simple Sweet homely girl.

3.NEVER SATISFIED –

Oh you can never satisfy them whether you die for them. Like, how rude!

4. HYPOCRISY-

Thinking about anyone else and talking someone else.

5.POSSESSIVE-

God knows why these men are so possessive about everything.

6.THE BASICS-

Life without booze, sex and cigarettes is just unthinkable. WHY?

7.AVOID RESPONSIBILITIES-

Dont want to take the responsibilities easily it is forcibly given to them.

8.REMOTE FIGHT-

These men think they have a birth right over the Remote control and the things women are watching is always pathetic for them.

9.OVERCONFIDENCE-

Men always think they can do better whether its home or office. Always says to the wife- ‘’You must be taking rest at home but i am toooooo tired”

10.ALWAYS LAZY-

They don’t take proper care of there things. You can see it yourself!

 

Leave a comment »

Mother ……

— By Ken Pierpont

She dreamed of you from the time she was a little girl cradling a baby doll in her arms. She always saw you playing around the little cottage in her childhood dreams.


She carried you in her body and you made her sick every morning for weeks and weeks. She bore you into the world through intense pain but when she heard you cry and saw your wrinkled face she forgot all about it and wept tears of joy.

She fed you at her breast and her whole world revolved around you. She stole into your room at night just to watch you sleep and she was sure you were the most beautiful child on earth. She set up through the night to bathe away the fever and at breakfast your dad said; “Sleep well, honey?” oblivious to the all-night vigil. She somehow always knew when you needed her, even in the middle of the night, and she came to your room and changed your bedding and made sure you were warm and dry.

She covered your ears and gave you your coat and checked your homework and made you practice the piano and set through all your ball games and recitals like they were the seventh game of the World Series and a debut at Carnegie Hall. She nagged you to brush your teeth with words of wisdom like; “Be true to your teeth or they will be false to you.” She changed your diaper and cleaned up when you were sick and washed underwear no one else would touch without a chemical suit. And who do you think always cleaned the gunk out of the kitchen sink and bathtub drain?

She made sure you had the drumstick and your dad had the breast and acted like she preferred the wings. Her oatmeal cookies made you forget the beating you took from the neighborhood bully, or the slow rate of greeting card sales.

She listened to you and didn’t laugh when others would have mocked you. She believed in you when you didn’t believe in yourself and prayed for you even when you didn’t think you needed it. She made you think you could do things you were sure you couldn’t do. She was tough enough to call your bluff and discipline you and give you a sense of boundaries and the security that comes with it. She spanked you when “Spocking” was all the trend with lesser mothers. She knew when you needed a spanking or just a nap and she didn’t always give you candy though she longed to indulge you.

She was always waiting when you came in late. When you complained about it, she pretended to be asleep the way you always did when you wanted her to carry you in from the car after a long trip.

She made your dad a much better man than he ever would have been without her. She mended clothes as a labor of love and it broke her heart to see how quickly you grew out of them. She knew you were only loaned to her from God and soon the house would fall silent again. She washed mountains of dishes and truckloads of laundry. She put up food on the hottest summer days and didn’t complain.

Her most sincere prayers were the ones she sent heavenward in gratitude for you. She filled your home with fragrance and beauty and music. The smell or her perfume and fresh-cut flowers, bacon for breakfast and Sunday roast. Her eyes were bright and happy and full of life. She wept though, wept and worried a thousand times for you when no one ever knew.

She rose early on holidays so you could enjoy a festive meal and an enduring memory. She planned for days and worked for hours so that in a few minutes you could gulp it down and go watch football. You didn’t always thank her or help her with the dishes, but those meals have been a cherished memory for years.

She baked you special treats just to watch you eat them. Something inside made her happier the more you ate (If you could see me you would know this made my mother a very happy woman).

She wore old dresses so you could have a new ball glove. She skipped vacations and second honeymoons so you could go to camp. She limited expenses for her hobbies so you could get your band instrument. She was happy with last year’s fashion so you could have this years tennis shoes. She didn’t abandon the family when your dad was insensitive to her needs. She took the blame for your failures and stood back and let your dad have the glory for your successes. And having done all these things and a thousand others that make mother a sacred word, she still felt she wasn’t the mother she should have been.


**Buat ibundaku, maafkan putrimu yang belum bisa banyak membuatmu bahagia .

Leave a comment »

Kena Typus, Ngamar deh di RSI Sby ….

Jum’at – 12 Mar 2010 11.39

Aku baru aja bangun tidur. Denger suara anak2 dari gerbang, datang dari sekolah diantar Bude. Tidurku bentar sih, paling 1 jam-an setelah nglihat film di transtv ’ a Dog’s Tale’. Maunya tidur dari pagi setelah minum obat. But dasar senengan aku film barat keluarga, yah mata tetep mbelalak. Pikirku sih duduk lihat tv kan yah sama ama tidur, yang penting sama-sama istirahat ’gerak’. Pas liat tv itu, si Dana-temen JSI nelpon nanyain apa aku dah sehat. Sebelumnya aku lihat ada misscall dari nomor jindal jam 7-an. Wah ini pasti mbak Noer, pikirku. Soale kemarin tak sms dia kukabari aku dah pulang dari RS skalian kukasih selamat mau diangkat staff.

Yah, bersyukur punya temen2 yang masih care and attensi ama aku. ….

Aku emang sakit. Kena Typhoid Fever lagi! Dulu pernah juga nggak masuk kerja ampe 5 hari-an karena ’gejala types’. Trus beberapa bulan kedepannya sempet mo kambuh lagi, 2 hari ga masuk juga. Waktu itu pas bos finance-nya Mr.Mittal. kali ini, sejak selasa aku mulai ga masuk. Udah 4 hari nih. Rencana sih senin masuk, biar pemulihan badanku bisa total. Hari senin lalu, aku masih ke kantor. Berangkat masih terlihat sehat-sehat aja. Besides, aku masih ada obat untuk kuhabiskan, dengan harapan moga2 bakal sembuh. Jum’at sebelumnya aku dari dokter (RSI, Langganan).

Sebenarnya badanku terasa sakit (alias anget ilang anget ilang) kerasa dah lumayan lama, hampir seminggu lebih sebelum masuk ngamar. Mungkin berawalnya, ya..sejak 2 hari lembur ada audit interim AAJ yang mendadak and harus selesai minggu terakhir febro kemaren. Padahal di minggu sebelumnya 2 hari berturut turut lembur juga nyelesaiin permintaan AR flow dari pak Her untuk closing audit pajak 2008 plus nyiapin SPT PPN Jan 2010. Cuaaapeeek waktu itu, udah gtu pas boleh pulang sore (maksude nggak lembur – tugasku bikin AR aging dilanjutin santoso), aku dah niatin sepulang ntar aku bakal tuuiiidur. E’eh nggak kelakon ternyata. Suamiku ngajak aku nganter anak2 ke RSI. Mereka udah beberapa hari emang kena batuk pilek. Penyakit langganan, bosen sih, keseringan. Mereka belum genap sebulan wes kambuh kena batuk lagi. Mulai aku bersin-bersin, sedikit krekes-krekes. Terasa cuapek lair batin….. kebetulan jumat 28 feb libur maulit nabi, sabtunya aku sekalian ngajukan change-off.

2 hari libur itu aku tidur thok. Mas irul masuk lembur. Coba klo semisal dirumah, pasti aku keluar-2 (nggak tiduran). Aku ngerasakan perutku rada aneh pas sabtunya. Pikiran aku mulai kecamuk, ”kenapa? ini sakit mag karena sebelumnya emang sering telat makan, atau kecape’an kemarin, atau malah tipesku kambuh yah?” Pikiranku nggak enak. Aku pengen banget buka artikel yang pernah kuprint tentang types, tapi kucari-cari nggak nemu. Ah, apa karena aku lagi haid, hari pertama. Soalnya rada lancar dikit sih dari pada 2 periode haid sebelumnya yang cuman incrit2 (gara2 kuminumin pil tuntas).Trus aku coba nelpon Dana. Yang ngangkat pak Fajar, katanya dia lagi sibuk nyiapin dokumen. Ya wes…. nggak jadi. Maksud aku sih pengen minta tolong dia untuk searching-in Google mengenai gejala tipes atau iseng nanya tanda2 dilep tuh kaya apa. Abis udah lama nggak merasakan nyeri haid sejak nikah. Jadinya dah lupa sakit-e seperti apa.

Besoknya, minggu 28 feb ( pas ultah suami), kami semua ke krian, hari itu tepatnya saat serah terima rumah kami yang di perum. Dua permata masa kontraknya abis. Mau aku sih kunci kuminta sejak jum’at – mumpung liburan, cuman sepertinya pak Rudy sendiri belum selesai beres-beresnya. Yah udah lah… ke tempel, bawaannya rada jutek, dari kemaren2 pengen marah soalnya 2 hari libur, suami malah lembur. Judek dirumah teross (walo, emang rada sakit). Wes ngrancang pergi ke Bon Bin ama anak2 n Bud
e, eh, di sms suruh bersih2 atas mungkin mas ipul mampir ( lagi di SBY), trus ngrancang owong-owong malamnya sebagai perayaan ultah ayah, e’eh… gagal juga. Masku pulang rada malem. Males !! momen ulang tahun ayah, yah jadi nggak mesra, maune berantem.

Well… effective bisa ’umek2’ rumah kita lagi, dah siang banget. Pas nyampe, rumah itu kosong, nggak ada orang. Pak rudy & family dah nggak ada, nunggu di sms baru ketemu, nguobrol sampe lama di rumah tempel…. kerasa capek emang badanku, hidung mulai gebras gebres. Nggak kehitung, manjur, langsung sampe di rumah sidosermo langsung pilek. Srap …srup.

Besoknya, senin tgl 1 maret, offcourse harus masuk kerja, sakit ’dikit’ nggak papa, ini closing time. Harus berusaha! Badan harus kuat! 4 hari-an aku obati ama obat pilek. Yah neozep, poldanmig, minum vitamin, pocari, mizone…. but, sepertinya yah nggak banyak perubahan juga. Masih krekes2. malah, pas selasanya, aku tetep ikut senam. Harapanku, sapa tau dengan keluar keringat, aku bisa enakan. Wal hasil emang berkeringat, tangan yang nggak biasa keluarin banyak keringat, tiba2 bisa banyak. Cuman… rada nggroyo sih. Aku emang paling seneng and nggak mau ketinggalan senam. Selain pengen ’sehat’ juga eman dah bayar fee di depan, rugi klo gak dateng. Palagi selasa ini pas tanggal muda, waktunya arisan. Yah gtu, besoknya tetep aja badan masih nggak sehat, masih lemes….. nggak enak terus2an sakit (sungkan klo gebras-gebres di mobil ama natalia), jumat aku ke RSI. Jumat itu kondisi badan terasa memburuk mungkin dipicu telat makan paginya. Kan saat itu di kantor dijawdalkan medical check up yang mensyaratkan gak boleh makan dulu. Walhasil selesai check up udah siang bnaget, 10.30-an…

(written 13.03.10 -11.36)

Walo dah mendekati makan siang – juamat istirahatnya 11.30, tetep bontotanku aku makan. Bali and sedikit mie. Enak balinya, cuman puedes. Jatah makan siang kumakan sekitar jam 16.00, kebetulan ada Mbak Noer temen makan, sama2 nyiapin bontotan dua. Jatah makan waktu itu pecel, duh lagi2 peudes. Di mobil pas pulang, aku merasakan gak beres ama badan aku. Meskipun gitu tetep aja aku bimbang ke dokter pa pulang aja? Hari jumat sebenarnya jadwalku senam. Aku pun dah bawa seragam, pikirku kali2 ntar badanku kerasa enakan. Kali ini aku yakin ngorbanin senam karena emang badanku nggak enak. Aku bingung apa minta tes darah aja padahal tadi paginya tanganku juga udah dicubles di kantor, males dong klo dicubles lagi diambil darah. Akhire aku cuman utarakan keluhan demam yang nggak ilang2, mungkin masih pilek. Then, aku dikasih obat pilek (lapifed) skalian antibiotik, katanya untuk demamnya yang berkelanjutan.

Sabtu pagi (06 maret), bangun terasa badan enakan, seger. Mungkin obatnya bekerja, semoga. Jatah obat pagi, kuminum pas sampe di kantor. Maklum aku suka beser, klo minum sebelum berangkat, bisa sepanjang perjalanan 1.5jam ngempet pipis nih…. pagi itu di Gresik hujan, hawanya dingin banget di ruangan, jaket terus kupake. Obat dah kuminum tapi aneh, perutku koq mual-mual, malah kudu muntah, di ruang belakang (tempat lemari file) aku sandarin kepala, nggak kuat rasanya. Tapi, aku betah2in, toh sabtu sampe jam 12 aja. Aku cuman mikir mungkin mual tadi efek dari obat yang kuminum, tapi kenapa kemaren malem nggak yah? Apa karena abis minum langsung tidur? Di mobil aku langsung tidur. Lagi-lagi makan siang jadi telat, soale klo sabtu jatah makan dibawa pulang langsung, makan di mobil yah sungkan. Sebenare waktu itu mbak lingga makan jatah di mobil, tapi aku masih nggak mood, pikirku ntar aja. Aku emang berencana mau ke DTC langsung, walopun (sekali lagi) bimbang juga karena badanku terasa nggak benar2 fit. But aku masih berpikiran mual2 tadi mungkin pengaruh obat aja. Dengan lemes2 dikit, aku nyari jilbab, trus sempaknya anak2 and kaos dalam. Aku juga beli taplak kuntuk meja tempel, krupuk juga jajanan kiloan. Aku dah selesai, masku belum pulang dari kerjaan, akhire aku nunggu di musholla. Waktu itu kusms juga klo badanku kenapa masih krekes2 lemes, apa yah tipus? Tapi, aku masih harus habiskan obat yang diberi dokter kemarin.

Minggunya, 07 maret, paginya yah aku masih ke pasar, trus jalan2 ke Hartono elektronik mo nyari speaker/salon. But, nggak jadi beli, malah eker2an gara2 masku ngotot harus pke amplifier, sedang aku maunya yang simple aja yang penting tuh DVD Player bisa bunyi, ngga bisu. Nggak puas aku nanyain sendiri ke pelayannya, ternyata juga nggak papa nggak pke amply, amply hanya jika mau hasilnya jadi luar biasa. Yang bikin emosi amply harganya 2.5jt. hah? Playernya aja 300rb-an. Padane dibuat usaha sound system aja! Juengkel banget waktu itu, suamiku masih ngotot nggak percaya pada keterangan pelayan yang bilang dengan salon langsung juga bisa. Belum lagi masku maunya beli satu set p
layer and speaker, tambah emosi aja, aku nggak seneng apa-apa jadi mubadzir, wong dirumah udah ada player sharp trus baru beli DVD Player Avante 2 bln lalu mungkin, lha koq mau beli baru lagi. kakean duek ta… selalu sukanya apa2 yang wah, beli lagi, beli lagi…. paling nggak seneng udah punya (2 lagi), masih diulangi beli. Akhire pulang nggak jadi beli, aku metutut, marah, jengkel. Aku marahin masku terlalu gengsi nanya ke pelayan, nanya-e yang wah tok. Sehingga tak bilangi tanpa amply pun gak percaya. Aku ngajak langsung ke toko elektronik kecil2an di rungkut tapi nggak mau, di rumah dia utek2 tuh kabel, hasilnya emang ada suara, tapi kuuuecil, harus dikuping. Anggak puas aku sms temen2ku untuk nanyain apa emang perlu amply agar DVD Player bisa bersuara. Si Deny/Heny jawab nggak perlu, sekarang banyak active speaker yang sudah otomatis tanpa amply. Harga 125rb-an juga ada! Temen lainnya yang ku sms spt Anas and Ervan MIS juga njawab. Walhasil, tak godain ” ealah… punya teman koq ndeso-ndeso, gaptek semua. Komputer gak ngerti, urusan simple salon gini aja yah nggak ngerti, ngertine opo? Ngunu yo dipercoyo…” yah, minggu itu jadinya penuh ’bad mood’.

Senin, 8 Maret aku masih ngantor. Namun dalam hati, kalo ntar badanku masih nggak enak, malamnya aku mau langsung ke RSI, periksa lagi dan minta di tes darah. Ternyata di kantor, emang perutku mulai terasa mual lagi, perih2 dan maunya muntah. Krekes2 & lemes, jelas masih. Kali ini bener2 nggak enak buat makan. Jatah makan siang rasanya susah masuknya. Mulutku nggak enak. Abis istirahat, aku coba telpon wawan tapi dianya nggak ada, satpam yang ngangkat. Katanya wawan ke surabaya. Padahal, pikirku mau pesen klo ada sopir yang ke sby, aku bareng pulang aja. Udah nggak kuat…. pikiranku dah nggak karuan, bertanya-tanya penyakit apa ini, sempet aku merasa lega setelah aku ngengek ternyata fecesnya tidak mencret ataupun keras / sembelit. Dalam hati, aku mikir berarti bukan types nih, lalu akhire aku minta tolong mbak Noer untuk ngeroki punggungku. Kali-kali emang masuk angin. Katanya sih lumayan merah. But, nggak bertahan lama, tetep terasa lemes lagi. Saat anak2 pada makan tape, aku pun ikut nyicipin, setelah itu aku rasakan koq nggak beres di perutku, panas and semakin nggak enak.Suaraku ditelpon juga kedengaran jelas ’kurang tenaga’. Pak andreas bilang ” minum extra joss mbak..” aku turutin, aku punya hemaviton stamina-nya masku, kuminum. Dimobil, lemes, tidur. Aku sms aku langsung ke RSI. Pas waktunya turun eh masku masih di kedurus (rumah Mertua, alm.), nglihat dompet eh sisa 1000,- doank. Tadi ketinggal di kantor 15.000 rencana buat bayar Dana. Akhire pinjem pak prayit 10.000. dikasih recehan… he he… digolek2no. Aku turun naik becak ke RSI. Setelah di tes darah, hasilnya, positif tipes!! 400-100, kata dokter siti komsiyah, itu tinggi. Ditawarin rawat inap. Hah?? Aku diberi waktu untuk rundingan sama suami.

(written Tues 16.03.10 -09.01)

Rundingan nggak ketemu, saat itu masku lagi sibuk2nya urusan kerjaan, pasti merepotkan klo aku harus ngamar, dia nggak bisa. Aku sendiri ragu klo istirahat dirumah, pasti nggak bisa total, anak2 seringnya malah rewel klo aku dirumah, dikit2 ama ibu, belum klo tengkar, pasti aku nggak bakal tinggal diam. Sedangkan tipes, katanya harus istirahat full biar sembuh. Aku nggak mau terus kambuh2an, kali ini aku mau typesku hilang tuntas, aku mau ngikuti saran rawat inap. Kata dokter, cuman 3 hari. But, siapa yang nunggu, masku merepotkan ortu krian juga nggak tega, walopun pas kutelpon, ibu pun tidak masalah untuk nungguin. Ibu bilang ”wong ke walisongo jualan juga libur, masa pas dibutuhkan anaknya koq nggak bisa”. But, malam itu – sekitar 22.00 kita belum sepakat, akhire yah udah pulang aja, obat jalan. Aku nuntut suamiku ”semua urusan anak2 tangani, aku mau istirahat”.

Tidur, nggak bisa nyenyak, tetep anak2 masih maunya dilayani aku, ”susu…ama ibu, pipis… ama ibu”. Aku masih mual2 dan pengen muntah. Tengah malam kita masih bingung, ngamar tah? Aku bingung, aku mau sembuh tapi keadaan nggak mendukung.

Then, selasa pagi, kita bulat, ya udah ke RSI, ikutin saran dokter. Sempet seakan-akan aneh ”minta diopname sekarang”, abisnya kan nggak langsung sejak tau hasil tes-nya positif. Lagian, pagi itu fisikku masih lebih fresh dari pada suamiku, yang nganter aku ke rumah sakit, jadi si pegawai RS sempet bingung koq yang sakit malah lebih tahes, kirain suami yang kena tipes. Perasaanku masih aneh klo aku ’bisa’ dirawat di RS, udah lama banget, 15 tahunan… sejak demam berdarah saat aku menjelang UTS semester I, awal tahun 1996. waktu itu sekitar 6 hari di RSUD Sidoarjo. Bener2 sakit saat itu. Kali ini rada aneh, karena aku merasa masih ’kuat’ secara fisik keseluruhan, tapi memang perutku bermasalah, itulah inti types menurutku, aku mau sembuh total, nggak kambuh2 lagi, makanya aku terima saran dokter malam sebelumnya. Dokternya aneh juga, kenapa aku masih kuat….

Leave a comment »

VIENHA

Berusahalah untuk lebih baik,,tapi jangan berfikir dirimu sudah baik.

My Journey, My Story, and My Dream

Try to tell and write the story

threspuspa

Just another WordPress.com site

drmaharanibayu

Dokter Laktasi

BREASTFEEDING & CHILD HEALTH

Informasi Berbasis Bukti Tentang ASI, Menyusui & Kesehatan Anak

Erit Kantoni's Blog

Blog Tentang Software Ponsel Android|Misteri Dunia|Humor|Informasi|Berbagai Kategori Lainnya!

tqar.wordpress.com/

ads here were not made by admin, be wise

faziazen

a Journal of MomPreneur

Life begins at 30...

by Arman Tjandrawidjaja

THE ADIOKE CENTER

can't be created without unlimited imagination

kalkunqita

A topnotch WordPress.com site

Akhmad Muhaimin Azzet

mari bersama menggapai ridha-Nya

miartmiaw

the way you look at me_a

Cerita-cerita indah penuh hikmaH

Cerita2 Indah Yang Menggetarkan Hati

LifeSchool by Bhayu M.H.

untuk Merayakan Hidup & Belajar dari Sekolah Kehidupan

RANGTALU

isinya biasa-biasa saja

Winny's Personal Life

One Kind Word can change someone's entire day!!

J.U.R.N.A.L

"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah", Minke - Rumah Kaca, 352