Archive for May, 2011

Menjalin Silaturrahmi kembali

Beberapa hari yang lalu buka pesbuk lihat inbox, ada message dari fatz, Pernah sama-sama aktif silat di kampus waktu kuliah. Dia adik angkatan sih, anak sastra Inggris sedangkan aku FE.

==Dear brothers and sister,UKM TS Unair punya gawe nih, Kejurwil TS se-Jatim di Gedung Auditorium Kampus C Unair tgl 26-29 mei 2011.

Tgl 29 mei, ba’da Ashar, ada REUNI bareng alumni UKM TS Unair di Gedung Auditorium Kampus C Unair … Harap Hadir ya…Tolong forward ke teman2 alumni UKM TS Unair yg lain ya …Salam Silaturrahim … Semoga Allah merahmati. Amin.

Beberapa temen yang masuk dalam list message receiver menjawab “wah..pingin banget aq dateng mbak..sayang selain jauh juga wes kabotan anak.he… Salam ja ya mbak buat teman2..”. Ada juga yang bilang “insyallah….”

Ada juga si ex ketua UKM, seangkatan dalam kepengurusan membalas “Terima kasih atas undangannya salut untuk rekan2 panitia…, mohon maaf kemungkinan tidak bisa hadir, maklum jarak dan waktu yang tidak memungkinkan, insyaallah di lain kesempatan bisa hadir. Semoga acaranya berjalan dengan lancar. Ina, Lely, Osy dan bos fitrah kalau datang ya…. Trims “==

Ouw, ternyata bakal ada reunian…..

Dalam hati, asli aku kangen, kepengen sih ketemuan lagi temen-temen silat. Seperti jawaban kebanyakan yang lainnya, aku hanya membalas “insyallah, semoga ada kesempatan untuk hadir …” belum berani janji.

Dah lamaaa banget, sepuluh tahun lebih deh sudah putus hubungan nyata. Belum ngomong juga ma suami sih. Moga dengan senang hati deh mau mengijinkan en nganterin aku. Klo dulu walopun lulus n dah kerja, setiap kali ada pertandingan aku masih sempetin datang menyaksikan, menjadi supporter buat atlet anggota UKM yang sedang bertanding sekalian silaturrahmi lah ama temen-temen yang masih aktif. Ini juga menjadi tomboh kangen saat saat dulu aku yang menjadi di gelanggang.

Tepatnya setelah menikah, aku udah nggak sama sekali kontakan ama ex-temen UKM silat. Gak ngerti mungkin misua kuatir aku ketemu temen yang ‘dicurigai’-nya dulu naksir aku kali…. Yee, padahal yah udah nggak pernah ada kabar sih si temen itu.

Rasanya, aku merasa begitu bersalah dalam beberapa acara kumpul-kumpul tapi tidak pernah bisa hadir. Diantara temen seangkatan, mungkin aku yang terkesan tidak ‘menyambung’ tali silaturrahmi. Sampai-sampai mungkin temen cewek yang paling plek dengan aku, juga sama-sama jadi pengurus, mengatakan aku sudah berubah, sudah tidak seperti dulu lah, sombong lah. Masalahnya hanya satu, aku tidak pernah datang saat ada acara kumpul. Sempet hubungan jadi begitu terasa renggang karena ini. Seakan aku menuntut dia mengerti akan keadaanku tapi dia selalu salah pengertian .

Dulu aku sering menginap di rumahnya, dengan keluarganya sudah sangat akrab. Tapi atas tidak tersambungnya silaturrahmi itulah sempat menjadi penghalang di hati ini. Tidak ada masalah spesifik yang menjadikan masalah, hanya komunikasi yang terputus itu. Aku salah sudah menuntut dia selalu mengerti kerepotanku, berharap dia paham akan kondisiku setelah menjadi seorang istri yang bekerja sekaligus masih berstatus ‘mahasiswa’ , yang nggak lulus lulus gara-gara skripsi belum selesai sampai akhirnya di kantor ada PHK masal baru bisa selesai skripsi dan lulus. Tetep masih juga pusing dengan PHK hingga anak ke-2ku terlahir.

Well….keliahatannya seakan semua sudah menjadi terlambat, keadaan itu menjadikan aku terputus hubungan dengan teman-teman akrabku sebelum menikah.

Hingga akhirnya sekitar 2 tahun lalu, aku datang di pernikahannya dari undangan aku dapatkan hanya dari ‘sms’ , aku berjabatan tangan dengan ibunya dan mempelai dengan menangis terseduh-seduh merasa bahwa ada yang hilang selama ini. Di dalam amplop aku sertakan pula surat permintaan maaf atas apa yang terjadi selama ini serta iringan doa untuknya.

——Semoga Allah mengizinkan kami semua tetap bersaudara….

Leave a comment »

gak kuat derajat

Waktu aku berkunjung ke orang tua kemaren, kembali ibu bercerita tentang sakit parahnya paman beberapa waktu yang lalu dan akhirnya mengantar beliau dipanggil kembali oleh-Nya. Kabar paman sakit sebelumnya tidak pernah kami dengar. Namun hanya dalam waktu 2 mingguan jatuh sakit, akhirnya beliau meninggal. Paman dengan 2 orang putri remaja, sebenarnya masih terlihat sangat muda dan kuat. Dua tahun yang lalu waktu sekeluarga berkunjung kesana, benar-benar tidak ada terlintas pikiran kalau bisa jadi dialah yang pertama dipanggil diantara saudara ibuku. Usianya mungkin baru 50-an, belum pas kalo disebut tua.

Tapi umur seseorang hanyalah Allah yang tahu.

Sebenernya, aku tidak sering berhubungan dengan paman, paling ketemu yah setahun sekali waktu lebaran. Atau klo ada salah satu sodara yang punya hajat maka disitulah ada kesempatan ketemu. Tapi entahlah sejak mendengar kabar sakitnya apalagi kepergiannya, aku merasa begitu kehilangan dan merasakan kesedihan yang dalam.


Mungkin diantara saudara ibu, beliaulah (selain ibuku) yang paling open minded secara kami yang termasuk ndeso dengan pendidikan yang biasa-biasa. Pada saat pandangan beberapa kerabat kurang begitu memperhatikan pendidikan tinggi, apalagi dukungan buat perempuan, tapi aku merasakan beliau-lah yang paling memberi support.

Bisa jadi ibu sering cerita tentang prestasi sekolahku sehingga sejak dulu setiap kali ada kesempatan ketemu, beliau selalu memberi semangat agar aku terus giat belajar. Beliau juga perhatian dan mendorong untuk melanjutkan studiku di perguruan tinggi. Waktu itu memang tidaklah mudah bagi kami untuk membiayai pendidikan jenjang tinggi.

Yah, walaupun ketemu beliau sangat jarang, selalu ada perasaan semangat dan senang jika bertemu beliau.


Selain itu, pamanlah satu-satunya kerabat dari ibu yang dijuluki ‘pegawai’. Bagi orang desa, menjadi pegawai (baca: pegawai negeri) walaupun kenyataan gajinya tidaklah besar, adalah satu kebanggaan dari pada yang kebanyakan profesi orang desa lainnya yang cukup bertani atau berternak.

Dalam riwayatnya, ibu bercerita kalau paman memang orang yang tekun dan pekerja keras. Beliau hanya lulusan SMP. Waktu masih muda dulu dia mengabdi dirumah seorang kepala Pengadilan Negeri di sebuah kota masih di jawa timur. Entah maksudnya ibu ngabdi itu yang seperti apa. Sewaktu aku masih SD sempat diajak ibu sambang ke rumah pak kepala. Memang benar paman tinggal di rumah pak kepala. Disitu paman disekolahkan lagi sambil membantu merawat ternak ayam petelurnya. Entah mana yang dulu antara berhasil masuk di PN atau ngabdi itu sendiri.


Selama ini kami sekeluarga mengira Paman hanya pegawai biasa saja mengingat sekolahnya juga apalah. Paman tidak pernah menceritakan masalah karir, disamping memang beliau terkesan begitu sederhana dan tidak sombong. Hanya saja beberapa waktu yang lalu saat merayakan pernikahan putri pertamanya sekeluarga begitu takjub ternyata acara diselenggarakan dengan begitu berkelas yang membutuhkan biaya yang tidak sedikit, disamping menantunya yang seorang Prajurit sehingga pakai acara arak-arakan militer.

Sekali lagi kerabat hanya menyimpulkan namanya juga sekarang jadi pegawai, kelasnya berbeda…. Bagi orang ndeso, ini sudah terkesan wao.

Namun semua kerabat baru sadar bahwa Paman bukan lagi pegawai biasa pada saat bapak kepala pengadilan memberikan sambutan sewaktu meninggalnya beliau. Bapak tersebut menyampaikan bahwa almarhum orang yang baik dan jujur. Atas keuletan dan dan ketekunannya 2 tahun lalu almarhum diangkat sebagai kepala personalia di instansi tersebut. Dia juga menyayangkan disaat jabatannya naik, almarhum mulai sakit-sakitan.

“gak kuat derajat”, begitulah orang jawa bilang untuk seseorang yang pangkatnya naik namun akhirnya sakit-sakitan. Walaupun beberapa orang bersuudzon atas penyebab kematian beliau yang kemungkinan disebabkan oleh orang yang iri atas keberhasilannya , tapi kematian hanyalah Allah yang tahu. Apapun penyebabnya, ini sudah menjadi garis takdir yang kuasa.

semoga tali kekerabatan tetap tersambung mengingat biasanya buhungan dengan pihak perempuan lebih erat dari pada hubungan dengan keluarga laki-laki. Apalagi selama ini mereka berdomisili di luar kota.

Comments (6) »

Rekreasi Sekolahan

Bulan Mei bulannya rekreasi anak-anak sekolah. Senin lalu (2 Mei), Farid sang kakak yang berangkat. Sekarang dia di TK B, bentar lagi mau lulus masuk SD. Trus Minggu kemaren (08 Mei), giliran adiknya – Fahmi yang rekreasi ama sekolah Play Groupnya dalam rangka mau lulusan pula. Sama-sama ke Malang. kakaknya ke Songgoriti, Adiknya ke Jatim Park.

Baru kali ini ada kesempatan nganter rekreasi sekolah si kecil. selama ini seringnya terpaksa harus ditemenin si Bude, ‘de ART.

well… pas kakaknya kemaren, ayah kebagian nganter. itupun pake dibujuk-bujuk segala plus diomelin panjang lebar biar mau cuti. alasannya males karena di rombongan pastinya ibu-ibu semua. aku sendiri udah dari awal pengen bisa nganter, tapi apa daya nasib jadi kuli akunting, tanggal awal pasti harus support tutup buku. coba mundur barang 1-2 hari pasti masih ada cara melarikan diri dari kerjaan.

untuk yang ke JatimPark kemaren, gentian aku, apa lagi ayah saat ini nggak fit banget setelah nganter rekreasi kakak yang 2 mei. walaupun aslinya sih nggak semangat karena 3(tiga) bulan yang lalu abis dari sana. bersyukur acara di hari minggu Plus ada info dipersilahkan bagi yang mau nambah ikutan, akhirnya yaudah kakak diajak sekalian plus ayah. pikirku mumpung biaya nambahnya murah. lagian klo nambah kakaknya tok yah aku yang nggak sanggup. kapok pengalaman sebelumnya deh, sampe nggak nafsu maem capek ngurusin 2 upin-ipin sendirian di lokasi.

Di situ nggak ada yang kenal sama sekali. Hanya tahu nama-nama temennya si Fahmi yang sering diceritakan sehari-hari kalo dirumah. ” oh ini yah yang namanya Reno, Faza, Ulil, Reza…. trus Arimbi, Rizky…” dst… nama-nama itu sudah lama ‘tahu’ dan baru kali ini tatap muka. Malah ada beberapa temennya yang sering main kerumah sewaktu aku kerja.

kita berangkat dengan 3 bus wisata. Kebetulan sekolahan playgroup si adik dalam satu yayasan ada TK-nya juga. Jadi acaranya dibarengkan. PG-nya sendiri hanya 1 bus aja. kita kebagian tempat duduk yang isi 3 untuk diisi kami ber-4.pikirku pastinya longgar wong untuk anak-anak masih kecil.

weleh, ternyata koq nggak nyaman banget dweh. Mereka umek terus. Nggak di rumah nggak di acara orang banyak, resek aja, perang-perangan melulu. Padahal baris didepanku sama, bawa 2 anak juga seumuran anak kami. Anteng mawon tuh….

bus kami berangkat duluan, tapi satu per satu wesss wesss.. Alias kesalip. Jalannya nggremet. Trus belum lama setelah jalan, tempat duduk baris sebelah turun hujan. AC-nya bermasalah. Air menetes terus. Macem-macem akal dicari biar nggak capek. masak berdiri ngelapin langit-langit bus terus. kasian yang pas dapet duduk disitu. setelah diakalin pake tas kresek nggak mempan, akhirnya pake selambu penutup kaca ditutupkan di langit-langit.

kemproh en kumuh jadinya. Mau gimana lagi. Si awak bus alasan bukan pegangan dia, jadi nggak ngerti klo bermasalah di slang AC-nya. Klo dibetulin butuh waktu bongkar dan harus berhenti lumayan lama. Waaahh, piye… akhire yah tetep aja jalan.

belum urusan hajat, lawong manusia seabrek gitu, sekali berhenti pipis nggak cukup 15 menit. Untungnya penduduk indonesia ramah-ramah. Udah berhenti di POM Bensin ternyata ruame banyak bus lain nge-drop penumpangnya pada pipis juga, akhirnya berhenti di depan rumah penduduk numpang pipis. Malah yang rombongan ayah ada yang sampe menceng-menceng gara-gara ngempet bE a bE.

ada juga yang muntah-muntah. “Byoooorr…”, tepat di sebelahku. Untungnya aku plus anak-anak bukan golongan yang gampang hoek-hoek ngeliat muntahan. Urun tissue ama minyak angin…

di lokasi wisata, kami terpisah. Biasa, selalu kelamaan di tempat belajar. Senengnya si kecil menikmati di area belajar, nggak cuman urusan permainan doang. But walhasil nggak nututi mencoba semua wahananya. Lawong masuk dah meh jam sebelasan eh udah diaba-aba kumpul jam tiga. hu uh, baru aja nyemplung renang. ditambah lagi suasana hujan deras yang menghambat. nggrundel wes.

banyak suka dukanya ikut rombongan rekresi…

Hmmmm… alhamdulillah sampai rumah dengan selamat. Walaupun capek. Ikut rombongan harus sabar dan harus selalu bisa menikmati suasana yang ada. Kalo nggak mau stress.



Comments (4) »

Man Propose God Dispose

Manusia memang tiada daya. Disaat semuanya terasa menyesakkan dan tidak menemui jalan keluar, hanya kepada-Nya kita harus mengembalikan.

Sejak issue akan resign-nya Accounting Head yang diikuti keterangan formal dari sang manager, lalu beberapa pekerjaannya dipecah-pecah dan dibagikan ke beberapa orang, ini memberikan beban pikiran tersendiri.

Sepertinya simple, toh aku hanya diberi 1 bagian saja dari pekerjaan – tax responsibility – tapi tetep bagiku ini sangat berat. Bukan masalah tidak adanya janji penyesuaian gaji tapi lebih ke resiko pekerjaan itu sendiri. Disamping selama bekerja di sini aku telah memutuskan stay with comfort zone, I’m satisfied enough with my achievement now, not interest with career any more.

Pekerjaan rutin pelaporan all tax ataupun pemeriksaan pajak tidak menjadi masalah. Hanya saja beberapa urusan sengketa pajak yang belum terselesaikan dan peradilan pajak memberikan beban tersendiri buat aku. Selama bekerja urusan pengadilan selalu diwakili oleh tax consultant. Pekerjaan ini akan menuntut seringnya travelling ke KPP di Jakarta. Belum lagi urusan ‘negosiasi’ dengan mereka, membayangkannya saja sudah sangat membuatku tidak nyaman. Jika sampai berurusan dengan ini, pastinya berat dan berkonflik dengan nurani.

Liburan minggu kemaren, aku terus kepikiran dan memutar otak bagaimana ‘menyelamat’kan diri, bagaimana membuat strategi ke pimpinan sehingga beban pekerjaan batal diserahkan ke aku. Sayangnya senin aku belum ada kesempatan menyampaikan keberatanku ini. Semua orang sibuk closing book. Semakin tertunda semakin membebani pikiranku, sesak di dada.

Buntu, pikiran resah. Sampai-sampai waktu pulang, di lyn air mataku menetes beberapa saat mendengar lagu islami yang terputar usai adzan maghrib. Saatnya semua berpulang kepada Allah.

Bersyukur semalam aku diberi kesempatan sholat malam, memohon diberikan kemudahan, diberikan jalan keluar yang terbaik buat pekerjaanku. Pikiran seorang hamba tidaklah sepanjang pembuat takdir yang mengetahui rahasia apa dibalik ini. Jika memang ini baik untuk saya, mudahkan ya Allah, namun jika ini akan memberikan kebaikan, jauhkan saya.

Pagi ini, sudah menyusun persiapan menghadap dengan beberapa argument untuk menolak limpahan ini, kabar berhembus dari sumber yang terpercaya mengatakan bahwa sang Accounting Head tidak jadi resign setelah hari sebelumnya dipanggil Bapk Presdir. Mungkin ada kesepakatan tertentu .

Alhamdulillah….. Sungguh bak angin segar, benar-benar ini jawaban-Nya atas apa yang sudah aku panjatkan. Terimakasih Ya Allah, mungkin ini adalah cara-Mu agar aku mendekatkan diri kepada-Mu kembali. Mungkin selama ini aku lalai sehingga harus diberikan masalah agar aku datang kepada-Mu.

Comments (10) »

VIENHA

Berusahalah untuk lebih baik,,tapi jangan berfikir dirimu sudah baik.

My Journey, My Story, and My Dream

Try to tell and write the story

threspuspa

Just another WordPress.com site

drmaharanibayu

Dokter Laktasi

BREASTFEEDING & CHILD HEALTH

Informasi Berbasis Bukti Tentang ASI, Menyusui & Kesehatan Anak

Erit Kantoni's Blog

Blog Tentang Software Ponsel Android|Misteri Dunia|Humor|Informasi|Berbagai Kategori Lainnya!

tqar.wordpress.com/

ads here were not made by admin, be wise

faziazen

a Journal of MomPreneur

Life begins at 30...

by Arman Tjandrawidjaja

THE ADIOKE CENTER

can't be created without unlimited imagination

kalkunqita

A topnotch WordPress.com site

Akhmad Muhaimin Azzet

mari bersama menggapai ridha-Nya

miartmiaw

the way you look at me_a

Cerita-cerita indah penuh hikmaH

Cerita2 Indah Yang Menggetarkan Hati

LifeSchool by Bhayu M.H.

untuk Merayakan Hidup & Belajar dari Sekolah Kehidupan

RANGTALU

isinya biasa-biasa saja

Winny's Personal Life

One Kind Word can change someone's entire day!!

J.U.R.N.A.L

"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah", Minke - Rumah Kaca, 352