Archive for September, 2011

hobby interview

Maklum hobby interview ku mulai muncul lagi…hehehe” begitulah ungkapan temen waktu kemaren aku diemail-i menanyakan mungkin aku mengenal sebuah nama PT. dia lihat di jobstreet.

lumayan bikin aku ketawa, hobby yang aneh…. he he… tapi, ternyata klo udah ‘hobby’, pasti ketagihan. sejujurnya, aku juga merindukan ‘gelora’ perasaan jadi anak baru di sebuah perush he he….. berhubung saat ini aku nggak ada alasan untuk keluar, yah tetep stay aja. apalagi beberapa ‘sodara’ ggwi tercinta juga ada disini, jadi mikir juga aku kurang apa ?

but, actually that’s just a joke. mungkin ada yang bener2 hobby begituan, tapi aku melihatnya ini pasti ada alasan tertentu. dulu, orang ngeliatnya aku hobby lompat-lompat pekerjaan. sempet ada temen yang menilaiku ‘miring’ mengiranya aku yang cak cek atau suka nggak betah-an di satu tempat. pertanyaannya kalo pas ketemu “ sekarang udah pindah dimana lagi?”. ealah lha koq ada pengikut juga dari temen sendiri.

Well, orang punya alasan sendiri-sendiri. you have no idea with my live!!, begitulah mungkin ungkapan yang pas klo ada yang menilai macem2 soal diri kita.

seingetku, terakhir si temen pindah (lagi) karena pengen cari kerja deket tempat tinggalnya, biar waktu nggak kemakan di perjalanan mengingat udah punya baby. Nah sekarang mau hunting yang lain…. Situasi dan kondisi memang bisa merubah keputusan yang sudah kita buat sebelumnya. kita nggak boleh bersuudzon ama pilihan orang lain.

seperti aku dulu… waktu aku pindah dari yang sebelumnya, mungkin banyak kawan yang menilai ‘aneh’. katanya mau cari yang deket deket, udah dapet lha koq malah pindah menjauh lagi? Bukannya katanya waktu buat keluarga lebih penting dari pada uang ? kerja dimana pun sama? aja Bla bla bla…

dan memang baru kali ini aku anteng nggak lagi kirim2 lamaran kerja. saat ini aku menilai keadaan masih aman terkendali, hubungan pertemanan disini oke, gaji dah equal ma pekerjaan (insyallah), jadi tidak ada alasan pindah.

Comments (8) »

Merasa Kenal tapi dia Enggak

Kalo nggak salah namanya Ridwan Halim. Siang kemaren dia datang ke kantor menemui pimpinanku. Sebelumnya pernah beberapa kali datang waktu aku masih tahun pertama di perush ini. Saat ini dia menjadi konsultan kami untuk beberapa kasus keberatan pajak yang sedang disidangkan. Dia jugalah yang menjadi anggota firma kantor tax consultant itu.

Waktu pertama kali melihat, aku sangat penasaran sama wajah itu orang. Bener2 kayak kenal. Sayangnya dia mungkin udah nggak mengingat sama sekali aku. Apalagi aku dulu nggak begitu tenar he he… jadi yah pasti terlupakan. Enggak puas, aku nelpon salah satu temen lainnya mencari konfirmasi. Akhirnya aku pun hampir 100% yakin dia adalah seangkatan di jurusan Perpajakan dulu.

Malahan, waktu aku menemui pegawainya di kantor dia, aku pun kembali bertanya apa bener bos-nya dulu lulusan ini tahun ini…. Dan beberapa keterangannya memang menguatkan. Si pegawai juga menambahkan bahwa si bos terakhir ambil S-2 di Australia.

“Wah…. Nggak nyangka”, bathinku. Nggak heran sekarang sukses bisa membuka kantor konsultan sendiri.

Seingetku, kalo nggak tepat dia dibilang pendiam, dia itu anak yang nggak terlalu suka ‘rame’, alias jarang terlihat ngobrol2 atau gruduk-gruduk apa gitu…. Jadi mikir, gitu kali yah calon orang sukses, kadang nggak keliatan. Padahal pas kuliah terkesan ‘biasa-biasa’, atau aku aja yang kurang mengenal dia. Dan sampe sekarang pun aku nggak menemukan dia di FB.

Sayangnya, entah alasan apa, sampe sekarang aku tetep nggak berniat menanyakannya langsung. Merasa nggak enak lawong dia aja nggak inget aku, masa yah aku ngaku-ngaku. Selain mungkin agak segan karena aku cuman jadi pegawai biasa, sedangkan dia bisa sukses menjadi konsultan di kantorku.

Ah.. Biarlah, cukup dibatin aja.

Comments (17) »

Hajatan ala Kampung

Kampung asal ku di daerah Krian, 30 km-an sebelah barat kota surabaya. Hajatan di tempatku tidak jauh berbeda dengan desa-desa sekitar, cuman beberapa hal mungkin tidak ada di tempat lain karena bisa jadi udah dihapuskan, karena mungkin ribet.

Setelah hajatan 8 tahun yang lalu waktu nikahku, merasa ikut ‘terlibat’ hajat lagi adalah kemaren 18-19 Sept pas sunatan ponakan. Apalagi rumahnya dempet rumah ibu, jadi bisa dibilang yah hajatannya ibu sebagai yang lebih tua, apalagi Mbak ipar bukan asli situ.

Acara ini lumayan mendadak, karena ternyata si ponakan udah ngebet pengen disunat dan nggak mau ditunda-tunda lagi. Katanya dia malu, temennya sudah sunat semua, tinggal dia aja. Walhasil udah berniat menghadiri seminarnya yatim mandiri jadi gagal gara-gara bingung gimana ngatur waktunya. Sebenernya getun pol karena udah lamaaa banget nggak pernah mengikuti acara seminar. Palagi ini mumpung gratis buat donator.

Biasanya kalo cuman family atau kerabat yang bukan garis lurus keturunan, umumnya yah dateng biasa kaya para ter-undang lainnya, berhubung masih kakak sendiri, maka at least harus rewang, bantu-bantu istilahnya.

Setelah mendapatkan saran hari baik dari orang yang ‘ngerti’ penanggalan ,1 bln sebelumnya orang yang berhajat berkeliling kampung untuk ‘wara’ (mengumumkan) sehingga bagi yang pernah disumbang ataupun yang mau menyumbang mengetahui kapan hari H. . Sudah tradisi bahwa setiap hajatan, masyarakan memberi sumbangan, jenisnya bermacam-macam untuk keperluan hajatan itu. Kebanyakan yah gula, minyak, mie, daging, telur, kadang minuman botolan/gelasan, rokok dsb. Namun ini dibuku sebagai hutang, bahwa suatu saat si penyumbang giliran punya hajat maka harus mengembalikannya.

Sumbangan diminta hanya kepada keluarga yang memang mempunyai calon anak yang kira2 sudah remaja ataupun anak kecil yang mau sunat. Masyarakan senang dengan tradisi ini karena bisa meringankan modal berhajat. Anehnya tradisi ini tidak berlaku di kampung sebelah.

Kebiasaan di pedesaan, kebanyakan hajatan yah diadakan dirumah sendiri, maklum rata-rata rumah masih mempunyai halaman yang luas untuk dipasang tenda ‘biru’. Dan segala tetek bengek sajian dikerjakan sendiri tanpa menggunakan jasa misal catering. Seingetku, setidaknya H-7 sudah ditandai dengan adek tratak di rumah si yang punya gawe. Semacam bikin tenda / payonan terpal di belakang atau sebelah rumah , dengan maksud untuk digunakan sebagai ‘dapur’ mengerjakan segala persiapan sajian. Sejak itu tetangga2 dekat secara sukarela datang membantu. Banyak pekerjaan yang sudah dimulai seperti bikin kue-kue yang bisa buat semoan (bingkisan tamu) ataupun suguhan. Adakalanya bikin jenang, goreng2 krupuk atau sekedar menyiapkan dus kotak kue.

Well…normalnya hajatan ditempatku acara berlangsung selama 2 hari.

Hari pertama disebut malem sego gore dengan acara inti walimahan sehabis isyak. Keramaian biasanya sudah dimulai sejak sehabis asyar. Mungkin di kampong lainnya tradisi ini sudah dihapus, namun disini masih ada tradisi bowo beras, yaitu para ibu-ibu sekampung (sekitar 8 RW) datang dengan membawa sekitar 2 ~ 3 kg beras ditempatkan di baskom/panci dan ditutupin taplak kain.

Tradisi bowo beras ini tanpa memakai undangan, bukan keharusan tapi biasanya ada perasaan sungkan jika tidak. Mereka datang bergantian dan dijamu seperti layaknya tamu lalu sepulangnya baskom isi beras tadi diisi bungkusan nasi, bungkusan lauk sate kelapa, lento & tahu, lalu bungkusan jajan sederhana seperti nogosari/Koci-koci, tetel, onde-onde, dan juga bungkusan aneka kerupuk puli beberapa macam. Waktu bowo beras ini biasanya menjelang asyar sampai sebelum isyak.

Nah, klo walimahan yang diundang adalah para bapak-bapak, kemaren ada 180 KK yang diundang. Biasanya ada diberi ceramah agama lalu dikasih makan dan pulang dibawai Nasi + lauk juga 1 kotak besar kue. Untuk walimahan ini berkatan-nya jauh lebih special dari pada yang bowo beras.

Untuk hari kedua disebut byung-e. Atau hari H. Pada hari inilah para undangan ‘resmi’ datang dan bowo duit alias bawa angpo.

Selain kerabat dan kenalan yang diundang, orang sekampung pun diundang pula. Ibu-ibu Bapak-bapak semua diundang plus jika hajatan menikah maka anak muda diundang si mempelai, jika sunatan maka anak-anak kecil juga diundang si yang disunat. Semua anggota keluarga datang poko’e, kasih angponya pun sendiri-sendiri. Tidak ada jadwal waktu tertentu yang ditetapkan sebagaimana kalo kita menyewa gedung, melainkan mereka bisa datang kapan saja. Biasanya paling telat sekitar jam 10 malem.

Well…..,Sejak menikah dan tinggal di surabaya, rasanya sudah nggak pernah lagi rewang. Kalopun ada kerabat berhajat paling yah datang sebentar pas byung-e sepulang kerja, nggak pake acara bela-belain cuti.

Setelah acara kemaren, jadi kepikiran gara-gara semua orang pada nanya “kapan nyunatno? Aku mau kesana”. Pahahal misua udah jauh-jauh hari menegaskan nggak mau pake rame-rame sebagaimana tradisi di keluarganya. Sekedar mungkin mengundang anak yatim untuk memberi do’a. Rencanaku yah ntar klo si kecil sunat, mau aku pesenin aja nasi kotak ame kue buat temen-temen kantor . Males undang-undang.

Comments (10) »

Belajar Bikin Kue

Lebaran udah lewat, tapi dua hari ini, aku sibuk bikin kue kering. kali ini mau aku kasihkan kakak-ku yang mau punya hajat sunatan minggu depan. Ya… hajatannya orang desa, pake suguhan kruwel-kruwel begini. lumayan buat penghias meja, alias suguhan. pengennya sepulang kerja nyicil bikin tapi seminggu ini banyak capeknya. beruntung sabtu kali ini libur, so 2 hari bisa dimaksimalkan produksi…. *terimakasih yah Neng Umi, udah rewang…

at least dengan acara hajatan ini, aku bisa semakin melatih kemampuan bikin kue-ku, biar makin hafal. mumpung bahan-bahan sisa lebaran kemarin masih banyak. abis pas ramadlan kemaren nggak banyak nyobain resep. klo tahun lalu, sepulang kerja aku masih akas bikin-bikin kue, puasaan kemaren nggak tau koq males.

udah 3-4 tahunan ini aku getol mengasah ilmu perkuean, yah semenjak punya oven sendiri. walaupun oven kompor biasa sih…. udah punya oven listrik juga 2 thn lalu, tapi sampe sekarang nggak pernah kupakek, ngeman listriknya…. *kasian yang mbayari.

dan, insyallah lebih semangat lagi sejak aku punya timbangan digital “TANITA”. Alhamdulillah kesampean beli barang yang satu ini. Mahal, 320rb.. tapi aku rela. anggap aja hadiah THR tahun ini he he….

And, semua resepnya adalah hasil brosingan di OM Gugel. kebek wes hardisku ama artikel kue-kue.

sayangnya, aku nggak pernah menghafalkan resep-resep yang sudah kucoba. walhasil jika catetannya ngilang, udah nggak bisa ngulangi lagi. kemaren aja, masih juga kesalahan baca resep… udah berkali-kali nyobain nastar, e’e lha koq salah baca 4 butir kuning telur aku pikir 4 butir telur. beh, nastarnya jadi aneh dan aku sendiri nggak doyan. baru nyadar salah setelah jadi.


Ini nih poto satu-satu. nggak tau nama kue ini apa, yang jelas kue yang dicetak bunga, tengahnya dikasih coklat keping lalu ditaburi parutan keju. resep adonan per resepnya untuk kue yang ini adalah :

225gr terigu

100gr gula halus

110gr mentega

1 sdm susu FC

1 kuning telur

1/2 sdt garam

1 sdt baking powder

1/4 sdt vanili

sumber : buku catetan jaman kuliah, nyatet bareng pas di kos-kosan Jordu no 7, lupa dari majalah apa waktu itu.

kue berikut adalah NASTAR. Baru ngerti klo nastar itu singkatannya Nenas Tart. isinya standart, selai nenas. resep adonan kue sbb:

250gr terigu

30 gr Maizena

60gr gula halus

200gr mentega/Margarin

2 sdm susu FC

2 kuning telur

1/4 sdt garam

1 sdt baking powder

1/4 sdt vanili

sumber : hasil googling, ketemu site-nya budiboga

lalu, kue berikut adalah KASTENGEL Palsu…. berhubung persediaan keju habis, cukup buat taburan doank, resep yang dilirik pun yang aspal. tapi, tetep oke koq.

Resepnya :

500gr terigu

300gr mentega

6 kuning telur

1 bks masako / royco

sumber : hasil potokopi catetan emak-nya si Dana, temen kantor. katanya dari kegiatan ibu-ibu PKK


selanjutnya, yang berikut adalah kue Sempritan. jadul tapi tetep aja suka.

baru nyoba kali ini bisa lancar mecocoti spuitnya. biasanya nunggu nyetak 1 loyang,baru bisa ketemu rumusnya.

resepnya :

250gr terigu

75 gr Maizena

150gr gula halus

250gr mentega/Margarin

3 sdm susu FC

1-2 kuning telur

1/4 sdt vanili

sumber : googling,lupa dari sitenya sapa.

trus, selain yang diatas, kue yang berikut juga adalah percobaan pas lebaran kemaren.

yang ini namanya lupa, kopas resepnya gak katut itu judul. kue dibulatin lalu diguling2kan di CornFlake yang diancurin lalu dikasih selai blueberry. kriuk-kriuk ueeenak… nggak bo’ong, kemaren aku incipin temen sekantor komentarnya enak. ataw mungkin karena dia ngarep aku kasih lagi yah? he he…

resepnya :

275gr terigu

50 gr Maizena

150gr gula halus

225gr mentega

3 sdm susu FC

2 kuning telur

1/4 sdt vanili

sumber : detik food lebaran kemaren


semangat mencoba terus, semangat semangatttt…. ..

Comments (6) »

Pembantu….(lagi)

Dada masih sesak.

Seri 2.… melanjutkan cerita kemaren. Well, pada akhirnya memang si bude sudah kembali ke rumah walau molor. Maksud hati baik, waktu kembali sudah kuulur dengan harapan dia bisa menikmati liburan ‘resmi’ dari kami , dimana jangka liburan dia menjadi lebih panjang. Kalo sebelumnya kita biasa memakai strategi jangka liburan dibuat lebih pendek dari yang ‘sebenarnya, sehingga jika kembalinya molor maka masih ada waktu ‘aman’ sebelum kami berdua masuk kerja. Tapi untuk mudik kemarin aku pesen tanggal kembalinya udah ku-pres mepet tanpa toleransi waktu ‘aman’ kami berharap dia bisa megang janji alias konsis.

Walhasil tetep aja meleset. Ini lumayan bikin aku sakit hati karena keputusanku menentukan hari kembali tanggal ‘itu’ ternyata suamiku tidak bisa menerima. Suami lebih setuju seperti strategi yang sudah-sudah karena toh selama ini selalu molor.

Dan sejak kedatangan dia aku menjadi tidak banyak bicara. Dieem.. Muales, masih kecewa atas tidak konsistennya datang tepat waktu.

Yah kesannya jadi aneh sih, tapi hati udah kadung lukak so lebih memilih menghindari kontak. Belum lagi kecewa suami ternyata masih berat – tidak tega mem-phk dia. Paham sih, ini pasti sulit. Aku sendiri merasakan bagaimana diselimuti perasaan tidak enak dan sungkan. Campur aduk deh, makanya berharap besar suami bisa mewakili menyampaikannya.

Puncak suasana adalah kemaren malem. Di kantor kepalaku pusing berat terimbas masalah ini, perasaanku semakin kacau. Klo dipikir-pikir aku yah gak tega juga terus tutup mulut begini, karena suasana di rumah semakin menjadi aneh selama 2 hari ini. Mulai muncul perasaan bersalah.

Waktu aku di kamar, tiba-tiba dia mengetuk pintu langsung masuk. == tiungggg..==

Kebetulan pas suami juga belum datang. Sepertinya ini sudah ditunggu-tunggu. Dia menyampaikan permintaan maaf jika ada kesalahan sebelumnya. Dia merasakan ada yang tidak ‘beres’ atas diamku yang tidak sebagaimana diamku biasanya selama ini. sekaligus menyampaikan jika memang sudah tidak berkenan menggunakannya lagi maka dia akan bergegas ringkes-ringkes.

saya ini bingung, ibu maunya gimana… baju kotor semua dimasukkan kresek mau diloundry, trus saya ngapain? Ibu juga biasanya ngasih tau besok masak apa, tapi koq sekarang nggak pernah nyuruh?” begitu dia menambahkan. Suaranya parau.

Lalu akupun menjelaskan semua ini karena sudah terlalu seringnya, bahwa hampir setiap pulang selalu kembali tidak tepat waktu. Akibatnya terlalu sering salah satu dari kami harus cuti atau kebingungan telpon sana sini meminta saudara untuk dititipi anak-anak. Selalu ada aja alasan molor, tahun lalu hujan deras lah, apalah…

Akhirnya diapun membela diri bahwa dia kan juga punya rumah, kadang pas pulang kondisi rumah bocor akhirnya harus memperbaikinya dulu. Atau urusan rumah apa yang belum selesai. “lha kan kemaren nggak jujur memakai alasan ini?”, bathinku.

Dan soal baju diloundry, itu karena kami menginginkan agar dia bisa fokus ke kebersihan dan kerapihan rumah. Beban kita alihkan kesana.

Akhirnya waktu suami datang, semuaanya dijelaskan kembali. Disampaikan bahwa dia akan tetap dipakai. Kita juga minta maaf jika ada kesalahan.

(sigh) saat ini, hidupku memang masih tergantung art. Insyallah jika anak-anak sudah besar, insyallah akan lebih mudah jika tanpa art.

Comments (4) »

Pembantu oh Pembantu…..

Beberapa hari ini sempet ‘darah tinggi’ deh urusan pembantu… be te poll.

Semula dipicu art nelpon katanya nggak bisa balik pada hari itu, hari seharusnya dia kembali bekerja. Alasan sakit pilek, mau pijet. Huh pancet ae, udah gitu pake ketawa-ketawa nggak keliatan kayak orang sakit. Jengkel masak setiap kali mudik ataw pulang kampong seringnya molor-molor mbleset nggak bisa dijagakno. Aku ama suami kan kerja ikut orang juga.

Akhirnya tiba-tiba baru kepikiran mumpung masa lebaran gini biasanya bursa pembantu lagi rame-ramenya, kenapa nggak coba cari pengganti aja yah? Mengingat selama ini dalam banyak hal sebenarnya sering kurang sreg. Cuman yah kita berusaha paham dan tetep mengerti namanya juga manusia pasti ada plus minusnya. Kita juga sangat sadar betapa sulitnya mencari pembantu baru, masih teringat capeknya berburu pembantu plus gonta gantinya waktu 2007-2008.

Aku pun meng-email salah satu temen lama yang juga menggunakan jasa ini. Berharap ada info pembantu . Atau kali aja yg bantuin dia selama ini punya kenalan. Beneran lagi judeg pengen ganti yang baru.

Lalu sehari berselang dia menjawab emailku “sayang mbak bilangnya sekarang, coba pas sebelum mudik, bisa langsung kubawakan PRT. Nanti coba kutanyakan ama yg biasa carikan kami PRT ( yah semacam penyalur dr desa)”

Aku juga sempet browsing nyariin alamat penyalur PRT. Sayangnya aku telpon rata-rata hanya menyediakan baby sitter. Aku pun telpon ortu di Krian kali aja ada anak yang mau ikut aku. Tidak lama kemudian ibu telpon balik membawa berita baik. Bahwa ada si dewi, tetangga kami yang lulusan SMP kemungkinan mau. Saat ini dia masih menggantikan familinya yang kerja jaga orang sakit beberapa hari. Selanjutnya dia menganggur. Sebelumnya dia kerja ikut toko sembako tapi keluar karena kerjanya lumayan berat sampe jam 9 maleman. Udah disampaikan ke ibu-nya sepertinya kemungkinan besar okeh.

Lalu giliran ibuku yang nanyain aku “ kamu sudah yakin tha mau mengganti bude? Opo gak sungkan sama Pak Koyyum suaminya? “.

Nah, sesuai kesepakatan sebelumnya, bagian menyampaikan ke bude adalah tugas suami. Toh, dari awal sebenarnya yang sering ngomel tidak puas juga suami. Aku aja yang sering ngedem-ngedem dan nggak mau repot terus hunting PRT.

Tapi ternyata….. Giliran suami kutugasi untuk nantinya ngomongin ke bude, e’eh malah mandek manyong alias ragu dan nggak tega. Suamiku mikiiiiiir berat menimbang ulang. Waduh, ganti aku yang jengkel ke suami karena kemaren2 yang suka protes dia dan sering aku suka kena awu anget nya gara2 pembantu, lha koq sekarang ada kesempatan mengganti malah masih gak tega ‘ngusir’nya. Hu uh.

Klo aku sih simple, kalau memang yang ini nggak ada harapan baik berubah, at least yang baru nanti masih banyak ‘harapan’.

Well… sebenarnya jobdis art –ku selama ini normal-normal aja, bahkan kesannya dia lumayan santé. Palingan ya kerjaan RT biasa kayak cuci2, setrika plus masak sederhana. Isi rumah Cuma aku ma suami plus 2 kids, umur 5(TK) dan 7(SD). Ntar Paling yah jemput si kecil di TK. Nggak pake ditunggu. Klo yang SD ada antar jemput. Insyallah udah lumayan ringanlah wong anak2 udah bukan bayi.

Tapi yah gitu tetep pas kita pulang kerja, rumah sering berantakan dan si bude kesannya memang kurang bersihan. Itu yang dikeluhkan suami selain masalah sikap dan beberapa hal yang kurang menyenangkan. Kalau aku sih urusan kebersihan nggak begitu mempermasalahkannya karena selalu berhusnudzon mungkin aja seharian udah kerepotan ama anak-anak.

Curhat ama teman, dia ngasih saran agar aku menaikkan gajinya lagi. Tapi, udah pasaran segituan deh. Pas cerita2 ama temen senam waktu lalu, malah masih dikasih lebih rendahan dari aku dengan kondisi 2 anak kya aku.

Mungkin kata yang tepat selama ini adalah simbiosis mutualisme antara aku ama pembantuku.

Suaminya kan satpam di perumahanku juga. Dengan kondisi suamiku dan aku yang kerja diluar, menjadi keuntungan tersendiri bagi mereka karena mereka bisa bebas bas di rumah kita. Bayangkan yang dalam rumah ada orang tuaku pasti mereka nggak bakal bebas.

Suami plus aku pun tdk mempermasalahkan suaminya sering kerumah pas kita kerja. Malah kita persilahkan suami makan di kita jika mau, baju suami juga ikut dicuci di tempatku, dan lebaran pun, persenan aku kasih buat suaminya juga.

Makanya dengan gaji standart pun selama ini tidak protes. Tapi memang kita dari awal juga kesalahan kita karena waktu awal menerimanya kita bilang “urusan kebersihan dan merapikan rumah” bukan utama karena bakal kita bantu. Walhasil yah yang keseringan nge-pel malah suami.

Pembantu oh pembantu…..

Comments (27) »

VIENHA

Berusahalah untuk lebih baik,,tapi jangan berfikir dirimu sudah baik.

My Journey, My Story, and My Dream

Try to tell and write the story

threspuspa

Just another WordPress.com site

drmaharanibayu

Dokter Laktasi

BREASTFEEDING & CHILD HEALTH

Informasi Berbasis Bukti Tentang ASI, Menyusui & Kesehatan Anak

Erit Kantoni's Blog

Blog Tentang Software Ponsel Android|Misteri Dunia|Humor|Informasi|Berbagai Kategori Lainnya!

tqar.wordpress.com/

ads here were not made by admin, be wise

faziazen

a Journal of MomPreneur

Life begins at 30...

by Arman Tjandrawidjaja

THE ADIOKE CENTER

can't be created without unlimited imagination

kalkunqita

A topnotch WordPress.com site

Akhmad Muhaimin Azzet

mari bersama menggapai ridha-Nya

miartmiaw

the way you look at me_a

Cerita-cerita indah penuh hikmaH

Cerita2 Indah Yang Menggetarkan Hati

LifeSchool by Bhayu M.H.

untuk Merayakan Hidup & Belajar dari Sekolah Kehidupan

RANGTALU

isinya biasa-biasa saja

Winny's Personal Life

One Kind Word can change someone's entire day!!

J.U.R.N.A.L

"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah", Minke - Rumah Kaca, 352