Hajatan ala Kampung

Kampung asal ku di daerah Krian, 30 km-an sebelah barat kota surabaya. Hajatan di tempatku tidak jauh berbeda dengan desa-desa sekitar, cuman beberapa hal mungkin tidak ada di tempat lain karena bisa jadi udah dihapuskan, karena mungkin ribet.

Setelah hajatan 8 tahun yang lalu waktu nikahku, merasa ikut ‘terlibat’ hajat lagi adalah kemaren 18-19 Sept pas sunatan ponakan. Apalagi rumahnya dempet rumah ibu, jadi bisa dibilang yah hajatannya ibu sebagai yang lebih tua, apalagi Mbak ipar bukan asli situ.

Acara ini lumayan mendadak, karena ternyata si ponakan udah ngebet pengen disunat dan nggak mau ditunda-tunda lagi. Katanya dia malu, temennya sudah sunat semua, tinggal dia aja. Walhasil udah berniat menghadiri seminarnya yatim mandiri jadi gagal gara-gara bingung gimana ngatur waktunya. Sebenernya getun pol karena udah lamaaa banget nggak pernah mengikuti acara seminar. Palagi ini mumpung gratis buat donator.

Biasanya kalo cuman family atau kerabat yang bukan garis lurus keturunan, umumnya yah dateng biasa kaya para ter-undang lainnya, berhubung masih kakak sendiri, maka at least harus rewang, bantu-bantu istilahnya.

Setelah mendapatkan saran hari baik dari orang yang ‘ngerti’ penanggalan ,1 bln sebelumnya orang yang berhajat berkeliling kampung untuk ‘wara’ (mengumumkan) sehingga bagi yang pernah disumbang ataupun yang mau menyumbang mengetahui kapan hari H. . Sudah tradisi bahwa setiap hajatan, masyarakan memberi sumbangan, jenisnya bermacam-macam untuk keperluan hajatan itu. Kebanyakan yah gula, minyak, mie, daging, telur, kadang minuman botolan/gelasan, rokok dsb. Namun ini dibuku sebagai hutang, bahwa suatu saat si penyumbang giliran punya hajat maka harus mengembalikannya.

Sumbangan diminta hanya kepada keluarga yang memang mempunyai calon anak yang kira2 sudah remaja ataupun anak kecil yang mau sunat. Masyarakan senang dengan tradisi ini karena bisa meringankan modal berhajat. Anehnya tradisi ini tidak berlaku di kampung sebelah.

Kebiasaan di pedesaan, kebanyakan hajatan yah diadakan dirumah sendiri, maklum rata-rata rumah masih mempunyai halaman yang luas untuk dipasang tenda ‘biru’. Dan segala tetek bengek sajian dikerjakan sendiri tanpa menggunakan jasa misal catering. Seingetku, setidaknya H-7 sudah ditandai dengan adek tratak di rumah si yang punya gawe. Semacam bikin tenda / payonan terpal di belakang atau sebelah rumah , dengan maksud untuk digunakan sebagai ‘dapur’ mengerjakan segala persiapan sajian. Sejak itu tetangga2 dekat secara sukarela datang membantu. Banyak pekerjaan yang sudah dimulai seperti bikin kue-kue yang bisa buat semoan (bingkisan tamu) ataupun suguhan. Adakalanya bikin jenang, goreng2 krupuk atau sekedar menyiapkan dus kotak kue.

Well…normalnya hajatan ditempatku acara berlangsung selama 2 hari.

Hari pertama disebut malem sego gore dengan acara inti walimahan sehabis isyak. Keramaian biasanya sudah dimulai sejak sehabis asyar. Mungkin di kampong lainnya tradisi ini sudah dihapus, namun disini masih ada tradisi bowo beras, yaitu para ibu-ibu sekampung (sekitar 8 RW) datang dengan membawa sekitar 2 ~ 3 kg beras ditempatkan di baskom/panci dan ditutupin taplak kain.

Tradisi bowo beras ini tanpa memakai undangan, bukan keharusan tapi biasanya ada perasaan sungkan jika tidak. Mereka datang bergantian dan dijamu seperti layaknya tamu lalu sepulangnya baskom isi beras tadi diisi bungkusan nasi, bungkusan lauk sate kelapa, lento & tahu, lalu bungkusan jajan sederhana seperti nogosari/Koci-koci, tetel, onde-onde, dan juga bungkusan aneka kerupuk puli beberapa macam. Waktu bowo beras ini biasanya menjelang asyar sampai sebelum isyak.

Nah, klo walimahan yang diundang adalah para bapak-bapak, kemaren ada 180 KK yang diundang. Biasanya ada diberi ceramah agama lalu dikasih makan dan pulang dibawai Nasi + lauk juga 1 kotak besar kue. Untuk walimahan ini berkatan-nya jauh lebih special dari pada yang bowo beras.

Untuk hari kedua disebut byung-e. Atau hari H. Pada hari inilah para undangan ‘resmi’ datang dan bowo duit alias bawa angpo.

Selain kerabat dan kenalan yang diundang, orang sekampung pun diundang pula. Ibu-ibu Bapak-bapak semua diundang plus jika hajatan menikah maka anak muda diundang si mempelai, jika sunatan maka anak-anak kecil juga diundang si yang disunat. Semua anggota keluarga datang poko’e, kasih angponya pun sendiri-sendiri. Tidak ada jadwal waktu tertentu yang ditetapkan sebagaimana kalo kita menyewa gedung, melainkan mereka bisa datang kapan saja. Biasanya paling telat sekitar jam 10 malem.

Well…..,Sejak menikah dan tinggal di surabaya, rasanya sudah nggak pernah lagi rewang. Kalopun ada kerabat berhajat paling yah datang sebentar pas byung-e sepulang kerja, nggak pake acara bela-belain cuti.

Setelah acara kemaren, jadi kepikiran gara-gara semua orang pada nanya “kapan nyunatno? Aku mau kesana”. Pahahal misua udah jauh-jauh hari menegaskan nggak mau pake rame-rame sebagaimana tradisi di keluarganya. Sekedar mungkin mengundang anak yatim untuk memberi do’a. Rencanaku yah ntar klo si kecil sunat, mau aku pesenin aja nasi kotak ame kue buat temen-temen kantor . Males undang-undang.

Advertisements

10 Responses so far »

  1. 1

    bundafahri said,

    kok koyok neng kene ya mbak 😀 jadi kalo di desa tempat para asistenku jg msh seperti itu tradisinya msh sama. sampai2 para asistenku kadang ngeluh kalo musim nyumbang,soalnya uang kerja abis buat nyumbang hiks……. aku niatnya jg sama kalo pas sunatan si kecil mo aku bawa ke semarang aja,diem2 lah.. malas rame2 😀

  2. 2

    enkoos said,

    Adat guyub gotong royong ya mbak. Tapi kalau memberatkan, repot juga.

  3. 3

    rosshy77 said,

    mba, kl sunatan ntar aku mau donk diundang ke surabaya 🙂

  4. 4

    zahratefiani said,

    sama adate kyk dikampungku juga…jd kangen sm bojonegoro deh…hehhe..

  5. 5

    inacw said,

    bundafahri said: kok koyok neng kene ya mbak 😀 jadi kalo di desa tempat para asistenku jg msh seperti itu tradisinya msh sama. sampai2 para asistenku kadang ngeluh kalo musim nyumbang,soalnya uang kerja abis buat nyumbang hiks……. aku niatnya jg sama kalo pas sunatan si kecil mo aku bawa ke semarang aja,diem2 lah.. malas rame2 😀

    wuh bener, palagi hari hajatan biasanya bareng2, semua milih hari tertentu yang dianggap baik walhasil barengan nguras uang..ibu-ibu masa kini males ‘rame-rame’ he he… *Toss idem

  6. 6

    inacw said,

    enkoos said: Adat guyub gotong royong ya mbak. Tapi kalau memberatkan, repot juga.

    iya, rada berat juga sih… tapi bagi yg punya hajat, waktunya panen kali yah…, klo celengannya banyak.

  7. 7

    inacw said,

    rosshy77 said: mba, kl sunatan ntar aku mau donk diundang ke surabaya 🙂

    ben ono alasan ke sby yah…?

  8. 8

    inacw said,

    zahratefiani said: sama adate kyk dikampungku juga…jd kangen sm bojonegoro deh…hehhe..

    sama-sama dari desa-nya. tapi lama tinggal dikota jadi males cara hajatan itu, soale pasti repot.

  9. 9

    estiningtyas said,

    seneng ya kalo masih guyub gini. dikampungku juga masih guyub gini bu.

  10. 10

    inacw said,

    estiningtyas said: seneng ya kalo masih guyub gini. dikampungku juga masih guyub gini bu.

    iya ada untungnya sebagai celengan biar pas punya gawe tdk memberatkan


Comment RSS · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

VIENHA

Berusahalah untuk lebih baik,,tapi jangan berfikir dirimu sudah baik.

My Journey, My Story, and My Dream

Try to tell and write the story

threspuspa

Just another WordPress.com site

drmaharanibayu

Dokter Laktasi

BREASTFEEDING & CHILD HEALTH

Informasi Berbasis Bukti Tentang ASI, Menyusui & Kesehatan Anak

Erit Kantoni's Blog

Blog Tentang Software Ponsel Android|Misteri Dunia|Humor|Informasi|Berbagai Kategori Lainnya!

tqar.wordpress.com/

ads here were not made by admin, be wise

faziazen

a Journal of MomPreneur

Life begins at 30...

by Arman Tjandrawidjaja

THE ADIOKE CENTER

can't be created without unlimited imagination

kalkunqita

A topnotch WordPress.com site

Akhmad Muhaimin Azzet

mari bersama menggapai ridha-Nya

miartmiaw

the way you look at me_a

Cerita-cerita indah penuh hikmaH

Cerita2 Indah Yang Menggetarkan Hati

LifeSchool by Bhayu M.H.

untuk Merayakan Hidup & Belajar dari Sekolah Kehidupan

RANGTALU

isinya biasa-biasa saja

Winny's Personal Life

One Kind Word can change someone's entire day!!

J.U.R.N.A.L

"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah", Minke - Rumah Kaca, 352

%d bloggers like this: