Serasa di Anggana

Setiap kali dengar lagu nya Rossa “Perawan Cinta”, Angan ku langsung melayang ke jalanan berkelok di Anggana Kutai Kartanegara. 

15 tahun yang lalu saat ditugaskan di Samarinda bersama kawan kawan kantor. 

Lagu itu lah yang mengiringi perjalanan pulang dan pergi dari kantor ke rumah kontrakan kami. Vise versa.  

Pas itu, aku masih belum berkeluarga. Sudah dipinang, menunggu saat kembali Surabaya untuk menikah hehehehe….

Sekarang anak udah 2 plus bonus 1. Udah tua.

*Pagipagidiputardikantor

Advertisements

Leave a comment »

Persiapan Masuk Gontor

**tulisan buat Primago

Puji syukur setelah perjalanan perjuangan dengan waktu yang sangat terbatas, akhirnya kakak farid berhasil masuk gontor pusat. Subhanallah, sungguh anugerah yang luar biasa akhirnya pesantren menjadi pilihan kami. Persiapan saya sangatlah pendek kalau tidak boleh dikatakan terlambat. Rata rata orang tua yang berniat melanjutkan pendidikan anaknya ke pondok biasanya sejak naik kelas enam sudah dikenalkan apa itu pondok dan beberapa persiapan-persiapan lainnya. Tapi tidak dengan kami

 

Hanya berkat  hidayah Allah lah, menjelang semakin dekatnya ujian sekolah, kegalauan antar sekolah negeri dan pondok berkecamuk dan Alhamdulillah berangsung – angsur berubah menjadi sebuah tekad bulat dengan memilih Gontor sebagai tempat terbaik, bukan lagi obsesi SMP negeri sebagaimana yang sudah kami persiapkan sejak ananda kelas 5 dengan mengikuti Bimbel.

 

Sejak saat itu, hampir setiap hari saya mencari informasi mengenai Gontor. Saya pun mulai menghubungi whatsup teman kantor lama yang mana kami pernah sama-sama bertugas di rantau, Alhamdulillah dia alumni Gontor. Bersyukur seakan jalan sudah dibukakan, saya bisa bertanya banyak hal tentang Gontor. Saya juga searching terus menerus menggali informasi dan berbagai cerita di internet mengenai pondok modern yang satu ini.

 

Alhamdulillah pada pertengahan April 2017 kami pun berkesempatan mengajak ananda mengunjungi gontor. Melihat secara langsung lalu lalang santri, merasakan nafas pondok dari dekat insyallah telah memberikan “setruman” tersendiri bagi ananda dan juga kami orang tua nya.

 

Dan, saya pun masih tak henti hentinya mencari informasi, Beruntung bisa dipertemukan dengan Primago – Bimbel khusus masuk gontor. Dikarenakan primago sejatinya adalah program privat, sedangkan kondisi keuangan kami belum memungkinkan, akhirnya saya memutuskan membeli modul “ Jurus Ampuh Menjadi Santri”  saja dan bertekad untuk membimbing sendiri.

 

Sebagaimana yang ada di modul, secara umum Ujian Masuk Gontor meliputi ujian syafahi (ujian lisan) dan ujian tahriri (ujian tulis). Materi ujian syafahi meliputi psyco–test, membaca Al-Qur’an, Tajwid, dan praktik ibadah (ibadah qauliyah dan ibadah ‘amaliyah).Materi ujian tahriri mencakup: Imla’ (dikte tulisan Arab), Bahasa Indonesia, Berhitung Soal dan Angka (Matematika dasar setara kelas 6 SD). Tidak ada perbedaan antara materi ujian yang diujikan kepada calon pelajar lulusan SD (sederajat) dengan calon pelajar yang berasal dari lulusan SLTP (sederajat).

 

Sebelumnya perkenalkan bahwa saya adalah pekerja kantoran yang menghabiskan minimal 12 jam di luar. Dengan keterbatasan waktu yang tersisa, Ijinkan saya berbagi pengalaman untuk pembekalan persiapan ujian Gontor yang saya terapkan untuk ananda dengan bantual modul “ Jurus Ampuh Menjadi Santri” 

 

Psikotes / Wawancara

 

Saya menekankan bagaimana mengangkat rasa percaya diri ananda dalam menjawab pertanyaan pewawancara, adab yang harus dijaga,  dan body language yang harus diperhatikan.

Isi pertanyaan sebenarnya umum umum saja sebagaimana di modul, tapi saya yakin dari gesture, mimik wajah dan cara penyampaian si capel dalam menjawab inilah yang menentukan seberapa tingkat kematangan si anak dan sejauh apa ketertarikan si anak untuk masuk Gontor. Trik menangani ini mirip mirip persiapan interview kerja.

 

Membaca Al quran beserta Tajwid

 

Kami merasa banyak sekali kekurangan kami sebagai orang tua, menyesaal bahwa selama ini kami tidak pernah membiasakan apalagi mewajibkan anak anak untuk senantiasa membaca al quran. Jika beberapa anak seumurannya ikut mengaji di TPQ sore sepulang sekolah, kami malah tidak memaksanya dengan anggapan Kegiatan mengaji di sudah dilakukan dengan cukup di sekolahan. Fyi, Ananda kami sekolahkan di sekolah islam. Seharusnya memang sudah mencukupi jam-nya, kelemahannya kami tidak pernah memperhatikan sampai mana tingkat kelancaran bacaannya.

 

Sejak berkeputusan mondok itu, ananda mulai saya tes, dan sedih ternyata memang bacaan ananda masih kurang lancar. Bacaan tajwidnya sebenarnya mendekati bagus, hanya saja karena tidak sering dibiasakan membaca, akhirnya terkesan “pelgak-pelguk” banyak terhenti entah kurang nafas atau berpikir di tengah jalan. Menyambung satu kata dengan kata depannya masih kurang. Tidak banyak waktu lagi, ananda mulai saya suruh ikut kegiatan mengaji di masjid dan saya mulai sering mendampingi menyimak bacaannya.

 

 

Ibadah sholat, adzan dll

 

Alhamdulillah untuk bacaan sholat, berwudlu ataupun adzan kami sudah tidak perlu khawatir, karena ananda sudah rutin melaksanakannya 5 waktu. Hanya sekali dua kali aja kami tes untuk melakukannya seakan dia sedang berhadapan dengan penguji. Mengenai bacaan sholat yang ternyata ‘berbeda’ dengan yang biasa say abaca, saya pun tidak mempermasalahkannya. Apa yang sudah ananda hafal di luar kepala dalam doa sholat adalah yang diajarkan sesuai buku di sekolahannya. Sedangkan didikan keluarga saya yang berbeda ‘aliran’ membuat beberapa bacaan ikut berbeda. Ananda tidak bisa membaca qunud pun, maka saya tidak mewajibkannya untuk menghafal. Saya yakin sekali gontor tidak mempermasalahkan mengenai bacaan yang harus dibaca dalam sholat, yang penting lancar sebagai penanda ananda sudah mempraktikkan dalam keseharian. Gontor punya falsafah berdiri diatas semua golongan.

 

Doa-doa harian

 

Sebenarnya hafalan ini sudah sejak play group pun sudah diajarkan. Dimulai dari doa bangun tidur, masuk WC sampai menjelang tidur. Tapi lagi lagi kalau kita sebagai orang tua kurang perhatian ( seperti kami… hiks), maka saat saya tes pun ananda banyak yang lupa. Seringnya kesulitan melafadzkan kata depannya. Hampir tiap hari hafalan ini saya gencar. Sehari minimal nambah 3 doa. Dan selalu kita uji ulang hafalan sebelumnya. Semua kami pelajari dari modul.

 

Hafalan surat pendek  (Juz Amma)

 

Hafalan ini hanya sampai surat Dhuhaa. Lagi lagi kesulitan ananda adalah kata pertama ayat. Akhirnya saya bikinkan catatan kata kunci awal surat lalu saya tempelkan di pintu pintu. Sering juga ananda lupa pas ditengah tengah, jadi memang harus terus diulang. Pada saat waktu sudah mepet dan hafalan belum sepenuhnya sempurna, saya pantau anak dari kantor. Pastikan dibuat checklist perkembangan hafalan ananda. Setiap 2 jam saya sempatkan menelpon untuk sekedar ‘badhei’ alias menguji hafalannya. Ini berlaku juga untuk hafalan doa.

 

Imlak ( Dekte Arab)

 

Khusus yang ini, porsi belajar sangat saya tekankan. Karena yang saya dengar memang syarat utama adalah bacaan quran yang baik plus imlak. Banyak calon santri bagus bacaan qurannya sayang lemah di imlak. Saya sering ibaratkan ke ananda, imlak ini semacam menulis bahasa inggris. Saat saya mendikte ‘ school’ maka anak harus paham ‘skul’ ini tulisannya ada unsure huruf ce ha nya… o nya dobel dst… begitu juga dengan dalam imlak, banyak kaidah yang harus diperhatikan. Untuk itu latihan terus menerus mutlak dilakukan. Hampir tiap hari saya dekte ananda. Dari sekedar kata kata yang mudah, yang tidak mengandung ‘jebakan’ lalu diakhiri dengan 3 kata rangkaian .

kuncinya adalah ada pendikte !! jika saya tidak punya waktu melatih dikte, saya kasih tugas sekedar menuliskan apa yang ada di latihan di buku modul. Karena saya yakin dengan menulis, itu sudah membiasakan anak dengan huruf/kata bahasa arab.

Saya pribadi lulusan Madrasah Ibtidaiyah, yang dulu sering nulis pego. Walaupun kaidah teorinya sudah lupa dan kurang bisa menjelaskan, yang penting saya diktekan ke ananda, lalu jawaban kita cocokkan dengan modul. Saya juga sering bilang kalau nanti diuji kata ini pokonya menulisnya seperti ini…. Hehehe.. maklum udah banyak yang lupa.

Bersyukur banyak sekali latihan soal yang disediakan di modul. Malahan anak saya belum sempat saya latihkan kesemuanya karena mepetnya waktu.

Pengalaman kemarin, salah satu anak satu grup yang barengan mendaftar ke gontor adalah lulusan pesantren penghafal quran, tapi sayangnya tidak lolos di gontor pusat melainkan di gontor 5. Jadi lancar baca quran, belum tentu bagus imlaknya. Harus dilatih!!

 

 

Selain tehnis tehnis yang harus dipelajari diatas. Ada upaya lainnya yang juga sudah kami tempuh untuk mendukung diantaranya :

 

Mengikuti  kegiatan SiGor (Simulasi Gontor)

 

Ini semacam pondok romadlon yang memang ditujukan untuk persiapan masuk Gontor, diadakan anak IKPM di daerah kami. Kegiatan ini sangat penting untuk menguatkan mental calon santri. Dengan pengarahan dari para ustadz – ustadz alumni, anak akan semakin mengenal seperti apa Gontor dan akhirnya  mempunyai niat yang kuat untuk bisa lolos ujian.

Menurut hemat kami, jika memang tidak memungkinkan bisa mengambil program Privat, acara semakan SiGor atau Ramadlan Camp adalah wajib Ain yang seharusnya diikuti. Disitulah semangat dan mental anak mulai naik, ada banyak motivasi yang didapatkan anak selama kegiatan tersebut.

 

Join Gontor Community

 

Pada saat ada acara buka bersama IKPM di daerah kami, peserta SiGor diundang untuk datang. Waktu itu hanya kami  keluarga yang datang bersama teman saya yang alumni yang juga bakal memasukkan putrinya. Mungkin hanya sekedar kumpul kumpul, tapi ternyata dari serangkaian prosesi “pembauran” ini, ada sesuatu yang tidak kasat mata, sesuatu yang sulit digambarkan, yang memberikan sentuhan semangat kepada anak kami bahwa inilah kelak, seperti mereka inilah nanti kamu akan dididik.

 

Saya juga bergabung dengan Grup Whatsup “ calon walisantri gontor” dari Primago, yang memberikan akses kepada saya untuk bertanya banyak hal dan mendapatkan sharing atau motivasi motivasi dari member lainnya, yang sebagian adalah sudah menjadi walisantri. Dari grup inilah saya jadi tahu bahwa kunci keberhasilan untuk masuk gontor  salah satunya adalah keyakinan dalam hati yang sangat kuat bahwa insyallah ananda akan lolos!! Usaha, usaha dan usaha, jangan ada  “second choice” selain gontor karena ini akan menggoyahkan keyakinan kita. Bismillah Allah maha tahu apa yang ada di dalam hati kita.

Karena itu lah, saat pendaftaran SMPN sudah dibuka, saya kuatkan hati, dengan nilai UN yang lumayan, saya lewatkan kesempatan masuk negeri dengan tidak mendaftarkannya. Ini adalah pengorbanan perasaan yang tidak mudah, karena seandainya ananda nanti gagal masuk, maka saya pun tidak tahu nanti harus sekolah dimana. Namun, insyallah berkat ihtiar gontor yang tidak kami duakan inilah, Allah kabulkan dengan meloloskan ananda masuk Gontor Pusat, Subhanallah… puji syukur yang tiada terkira.

 

Mohon maaf jika tulisan ini terlalu panjang, semoga pengalaman diatas bermanfaat. Motto yang selama ini terbenam di dada pada saat menghantarkan ananda mengikuti semua prosesi perjuangan masuk gontor adalah “ Hasil tak akan mengkhianati usaha”. Usaha semaksimal mungkin, hasil Allah yang tentukan. Dan Allah mengetahui segala isi hati.

 Surabaya, 09 September 2017

Innatus Sholihah – Walisantri dari Ananda Farid Ahmad Setiawan (G1 – 1i )

Leave a comment »

Sehat yah Bar…

Beberapa hari lalu si kecil sakit nih…

Seminggu sebelumnya sih udah ke faskes 1, keluhan gumoh terus and mencret …. but nih 3 harian Hidung kok grok grok susah nafas. Kirain sih hidung buntu karena pilek biasa. Badannya panas kalau efek obatnya hilang. Dan yang bikin khawatir tuh kenapa hidung/ingusnya bau yah…

Gak tahan nunggu, akhirnya yaudah langsung ke rumah sakit aja nemui spesialis THT. Alhamdulillah hari ini sudah ceriah lagi. Maem udah mau kembali, banyak bahkan. 

Ini Poto kemarin yang masih setengah sembuh… Sehat terus yah Akbar sayang…

Leave a comment »

Masuk Gontor? Ikut ini

🏵🌹Assalamualaikum🌹🏵
Kabar Gembira 🤗🎉 🤗🎉🤗
✨ 🚸Untuk para orang tua /walimurid yang ingin putra /putri nya menjadi bagian dari keluarga besar pondok modern Darussalam Gontor 🕌
🎊Telah dibuka pendaftaran peserta 🎖SiGoR🎖(Simulasi Gontor) IKPM SURABAYA Tahun 2017🎊

Untuk persiapan test ujian masuk pondok modern Gontor di bulan syawwal 1439H 
Dengan program :

1.✔Bimbingan belajar bersama ust/usth alumni Gontor📚

2.✔Study tour ke PMD Gontor 🚌

3.✔Simulasi Gontor (sistem asrama)

🏢
📡Info pendaftaran :

🚹Ust malik: +6285606618885

🚹Ust arif: +6285235312867

🚺Usth aulia: +6285641246813
🎖Form pendaftaran

http://bit.ly/2vKLwg5 
🏯 Sekretariat IKPM Sby

Jl. Embong malang pasar tunjungan no 36 Surabaya 🦈🐊

Leave a comment »

Paket Hidroponik

Dapat paketan …. Ups beli online , ngga gratis sih hehehehe.

Isinya paket buat nanam hidroponik, request si ayah. Eh ternyata ya ga murah yah… Huh, padahal ini sih mah lebih ke hobby hobby gtu. Coba kalau menanam hidroponik skala usaha, apa modalnya ga mahal ya jatuhnya?

So, dengan ini mengajari mas Fahmi kerja, buka palet pembungkus nya, yang memang kudu pake effort. 

Leave a comment »

Booster Asi?

Hah, masih juga beli beginian? Emang si baby umur berapa?

Mau babyboy mah udah toddler, 20bulan gtuuuu. Tapi Alhamdulillah banget masih Breastfeeding plus pumping di kantor.

Ya, walaupun akhir akhir ini rada merasa mulai susah mengundang LDR yang berkucur deras kaya jaman masih new baby. 

Wajar kali yah, udah hampir finish sih… But ga puas aja sebelum maksimal usaha. Akhirnya beli deh nih booster. Booster asi pertama yang kupakai saat mengejar stok Asip di masa maternity leave sebelum masuk kerja.

Aslinya sih tadi niat cuman beli ice gel doank, beli ini udah 5 bijian lebih tapi after this long.. pada bocor wal mecothot. Waktunya pembaharuan dah.

So, adakah yang lagi breast feeding juga ? Atau, e ping mungkin?

Comments (2) »

Masuk Negeri, atau Mondok!!

Hampir tidak terbayangkan jika akhirnya aku dan suami memutuskan untuk memilih pondok pondok pesantren buat si kakak, Farid. Mana ayahnya tuh golongan yang nggak begitu suka lihat orang yang kemana mana pake sarung ( kecuali sholat), trus di keluarganya tuh tidak ada yang sekolah system mondok. Nah kalau aku sebenarnya punya keponakan yang mondok, tapi karena dari awal nggak melihat ada kemungkinan itu dari suami, yasudah tidak pernah terpikir kea rah sana.

 

Saat ada teman cerita sengaja nggak memilihkan SMPN karena takud pergaulan remaja saat ini, aku tidak terpengaruh. Dalam hatiku cuman satu goal, SMP negeri di Surabaya, seperti yang diset-kan si ayah. Bahkan, mondok sengaja kami buat weden-wedenan alias ancaman jika kakak gagal masuk negeri. Dan ndilalah si anaknya sendiri juga wanti wanti katanya sekolah dimana saja nggak papa asal tidak mondok.

 

Sampai dengan momen pengambilan rapor semester ganjil kemarin ( klas 6), saat ditanyai akan sekolah dimana maka jawabanku si kakak akan kita daftarkan di SMPN di Surabaya. Aku juga masih getol menanyakan ke walikelas perihal kuota non KK jika mendaftar SMPN di Krian, tempat tinggal kami.

 

Waktu berjalan….

Saat semakin dekat dengan rentetan jadwal ujian, di sekolah memberikan kesempatan presentasi beberapa boarding school alias pondok pesantren yang ada di daerah sidoarjo.

Kaget wal heran saat aku di kantor, di-whatsup si ayah “ Farid bilang nggak papa mondok”. Whaaaaat?? Mimpi apa? Beneran? Tapi catat yah, tetap maksudnya jika nggak lolos SMPN. Saat itu juga aku mulai searching dan tanya sana sini soal mondok. Ternyata hampir semua teman SMA-ku memilih Memondokkan anaknya atau di taruh SMPIT, bukan ke negeri. Rata-rata mereka sudah sejak lama mendaftarkan anak-anaknya dan sudah final diterima.

 

Mulai deh tanya pondok yang deket deket rumah tapi terkenal bagus, e’e ternyata pendaftaran closed. Oke, akhirnya beberapa hari kemudian, tepatnya 8 April – hari sabtu, kami mengajak si kakak survey pondok yang dipresentasikan di sekolahan, Biar bisa mengenal lebih dekat seperti apa mondok itu.

 

Pondok pesantren yang kita kunjungi adalah Al Fattah di Buduran dan An Nur di Candi, sama sama di wilayah Sidoarjo.

Alhamdulillah ternyata keduanya tuh nggak jauh jauh dengan ‘aliran’ keluarga si ayah… so, pandangan pertama oke, setidaknya si ayah tidak lagi menganggap miring pilihan pondok.

 

Nah, pas berkunjung di Al-Fattah itu, setelah dijelaskan panjang lebar oleh mbak yang bertugas saat itu, kami pun sampai pada obrolan inter personal… ternyata si mbak adalah semacam ‘magang’ di situ. Dia sedang menjalani program setahun mengabdi dari pondoknya yaitu GONTOR. 

Akhirnya kami pun lebih banyak lagi meminta cerita tentang gontor ini. Tentang santri-santrinya, sistemnya, kesehariannya… dan kami semakin bersemangat soal kans Gontor untuk bersekolah diluar negeri, secara kemampuan dasar bahasa sudah terbekali dengan baik.

 

Akhirnya… sejak itu, pikiran kami berkecamuk. Mondok? Is it really a choice? What about our first goal of state school? Padahal si kakak udah aku ikutkan bimbel yang nggak murah dengan tujuan bisa masuk negeri. But,…..

(Bersambung di next stories)

Comments (4) »

VIENHA

Berusahalah untuk lebih baik,,tapi jangan berfikir dirimu sudah baik.

My Journey, My Story, and My Dream

Try to tell and write the story

threspuspa

Just another WordPress.com site

drmaharanibayu

Dokter Laktasi

BREASTFEEDING & CHILD HEALTH

Informasi Berbasis Bukti Tentang ASI, Menyusui & Kesehatan Anak

Erit Kantoni's Blog

Blog Tentang Software Ponsel Android|Misteri Dunia|Humor|Informasi|Berbagai Kategori Lainnya!

tqar.wordpress.com/

ads here were not made by admin, be wise

faziazen

a Journal of MomPreneur

Life begins at 30...

by Arman Tjandrawidjaja

THE ADIOKE CENTER

can't be created without unlimited imagination

kalkunqita

A topnotch WordPress.com site

Akhmad Muhaimin Azzet

mari bersama menggapai ridha-Nya

miartmiaw

the way you look at me_a

Cerita-cerita indah penuh hikmaH

Cerita2 Indah Yang Menggetarkan Hati

LifeSchool by Bhayu M.H.

untuk Merayakan Hidup & Belajar dari Sekolah Kehidupan

RANGTALU

isinya biasa-biasa saja

Winny's Personal Life

One Kind Word can change someone's entire day!!

J.U.R.N.A.L

"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah", Minke - Rumah Kaca, 352